Produksi Kopi Ratusan Ton, Kulonprogo Baru Mampu Olah 5 Ton

Barista menyiapkan kopi di ajang Festival Ngopi di Bukit Menoreh di kawasan Puncak Suroloyo, Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, Senin (31/12/2018) malam. - Harian Jogja/Desi Suryanto
31 Januari 2019 12:05 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO— Kabupaten Kulonprogo yang mampu memproduksi ratusan ton bijih kopi di Kawasan Menoreh setiap tahunnya, baru mampu mengolah sebesar 1,2% dari hasil produksi itu. Sisanya, sebagian besar bijih kopi dijual ke pengepul tanpa diolah.

Agar memiliki daya saing dengan produk di luar Kulonprogo, Pemkab akan mempopulerkan kopi asli Bumi Menoreh itu.

Kepala Dinas Koperasi UMKM Kulonprogo Sri Harmintarti mengatakan dalam menghadapi persaingan produk lokal dengan adanya New Yogyakarta International Airport (NYIA), pihaknya sudah mempersiapkan adanya branding kopi bernama Starprog.

"Nantinya, Starprog akan menjadi branding kopi Kulonprogo yang tidak kalah menariknya dari branding kopi luar. Harapannya juga bisa dipasarkan setelah bandara beroperasi," ujar Sri, Rabu (30/1/2019).

Sri menjelaskan dari rata-rata produksi kopi per tahunnya, hanya sebagian saja kopi di Kulonprogo yang sudah dipasarkan hasil olahan petani. "Banyak yang dijual ke luar langsung hasil panennya, tidak diolah dahulu," ungkap Sri.

Menurutnya, rata-rata produksi kopi per tahunnya di Kulonprogo mencapai 424 ton. Namun baru 5,2 ton atau sekitar 1,2%-nya saja, yang sudah diolah di Kawasan Menoreh. Sebanyak 418,8 ton lagi potensi kopi di Kulonprogo belum diolah dan potensial untuk digarap sehingga menghasilkan produk asli Kulonprogo.

Padahal, kata Sri, jika kopi tersebut diolah, harganya pun akan lebih tinggi, dan hasilnya akan maksimal.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, pada 2018, total produksi kopi di Kulonprogo mencapai 435 ton. "Kalau Kulonprogo andalannya Kawasan Menoreh, Samigaluh dan Girimulyo, ada juga sebagian hanya sedikit saja di Kokap dan Kalibawang," kata Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo, Widiastuti kepada Harianjogja.com.

Ia mengatakan petani kopi di Kulonprogo sekarang sudah mulai diarahkan untuk lebih mengolah sendiri kopinya, mulai dari pascapanen sampai bubuk kemasan. Sebelumnya, banyak potensi kopi yang setelah panen dari petani langsung dijual di pengepul.

"Di dusun-dusun itu ada pengepul, biasanya petani menjual langsung biji kopi itu ke pengepul. Kalau yang mengolahnya lagi biasanya ada di kelompok-kelompok, seperti Madugondo, Mekartani, ada juga Sidorukun," kata Widiastuti.

Menurutnya, di Kulonprogo, kopi-kopi yang ada biasanya tidak tersentralisir. "Ada Kopi Menoreh, Suroloyo, ada juga Kopi Moka Menoreh. Itu beda-beda penamaannya," katanya.

Menurut Widiastuti, dari sentra-sentra produksi tersebut, ada kopi dengan jenis arabika maupun robusta. Ia juga mengatakan, terkadang, aroma kopi di Menoreh juga akan terpengaruh oleh aroma tanaman lainnya. Seperti ada juga aroma cengkih di kopi yang ditanam di sekitaran pohon cengkih. Sementara, Kopi Moka Menoreh, terpengaruh dari adanya tanaman kakao di sekitaran tanaman kopi

 Pasar Kopi

Peluang kopi asal Kulonprogo untuk menembus pasar luar daerah terbuka lebar.  Moelyono Soesilo, Ketua Departemen Specialty & Industri BPP Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), mengatakan dalam empat tahun terakhir, perkembangan kafe, kedai kopi, dan restoran masih kuat.

Pertumbuhan tersebut tentunya mendorong permintaan produk kopi dalam negeri. Permintaan pasar global saat ini juga masih tinggi. “Oleh karena itu, industri olahan kopi dalam negeri masih bisa berkembang. Kami proyeksikan konsumsi dalam negeri tahun ini tumbuh 5%-6%,” ujarnya Senin (28/1).

Untuk mengimbangi pertumbuhan konsumsi tersebut, produksi olahan kopi diperkirakan tumbuh sebesar 6%-8% pada tahun ini.

Moelyono menyebutkan, serapan pasar domestik untuk biji kopi lebih besar dibandingkan dengan pasar ekspor. Sepanjang tahun lalu, dari produksi sebesar 600.000 ton, sebesar 360.000 ton diserap oleh pasar lokal.

Produk olahan kopi yang paling banyak dikonsumsi berupa kopi bubuk, yakni sebesar 70%-80%, sisanya berupa produk lain, seperti ekstrak, esens, dan konsentrat kopi.

Adapun, untuk pasar ekspor, produk kopi dalam negeri banyak dikirim ke negara dengan budaya konsumsi kopi yang tinggi seperti Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Italia, dan Malaysia. Menurutnya, dalam menembus pasar ekspor, penerapan bea masuk ke beberapa negara tujuan menjadi tantangan bagi pabrikan domestik karena bisa mengikis daya saing.

Oleh karena itu, perjanjian dagang diharapkan semakin ditingkatkan agar bea masuk produk olahan kopi bisa lebih rendah. “Yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah di sektor hulu karena lima tahun hingga enam tahun terakhir produksi kopi stagnan,” ujar Moelyono.

Dia menyebutkan banyak permasalahan yang dihadapi oleh sektor hulu, seperti usia tanaman yang sudah tua, serta pengetahuan petani untuk budi daya dan penanganan pascapanen yang kurang.

“Saat ini upaya pemerintah sudah dimulai. Edukasi petani untuk memilih produk yang tepat, perawatan tanaman dan pemotongan dahan yang baik perlu ditingkatkan,” katanya. (Bisnis Indonesia/Annisa S. Rini)