Resahkan Hujan, Petani Tak Ingin Kualitas Kopi Terganggu

Ilustrasi minuman kopi - Reuters
12 Februari 2019 22:00 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Para petani kopi Suroloyo tengah resah menyusul hujan yang mengguyur wilayah Kulonprogo sejak beberapa bulan terakhir.

Intensitas hujan dikhawatirkan mengganggu proses pascapanen yang dapat berimbas pada menurunnya kualitas kopi asli Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh tersebut.

Salah satu petani kopi Suroloyo, Windarno, mengatakan proses pascapanen terutama tahap penjemuran paling menentukan kualitas biji kopi. Dalam proses penjemuran, apalagi jika langsung terkena terik Matahari, hasilnya akan lebih bagus dan rasa kopi terjaga.

Saat ini tengah memasuki musim penghujan yang belum bisa diprediksi kapan berhentinya sedangkan masa panen kopi Suroloyo bakal berlangsung pada pertengahan Maret mendatang. “Kalau terus-terusan hujan sampai nanti panen, ya kami khawatir hasilnya akan buruk,” kata Windarno saat ditemui Harian Jogja di kedai Kopi Suroloyo miliknya, Sabtu (9/2/2019).

Musim hujan sejatinya memudahkan proses tanam dan panen lantaran tanaman kopi mendapat asupan air yang melimpah. Di musim penghujan tahun ini, Windarno optimis kuantitas produksi panen kopi Suroloyo di lahan seluas 20 hektare naik dibanding 2018 saat kemarau melanda sebagian besar wilayah Kulonprogo.

Windarno mengungkapkan ada cara yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi masalah itu, yakni dengan menjemur biji kopi di dalam sebuah doom plastik. Namun, cara ini riskan lantaran kelembaban udara di kawasan Suroloyo tinggi sehingga air dimungkinkan bakal tetap merembes dan menetesi biji kopi. Karena itu, para petani kopi Suroloyo hingga saat ini tidak pernah menjemur menggunakan metode tersebut karena lebih baik memanfaatkan terik Matahari.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Widiastuti menyarankan kepada para petani kopi Suroloyo untuk membuat doom penjemuran secara swadaya sebagai antisipasi awal untuk kemudian akan dipantau jawatan tersebut.

“Untuk langkah awal bisa membuat tempat penjemuran mandiri, bisa menggunakan material bambu yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar mereka. Setelah itu kami [Disperpangan] lihat dulu, kalau ternyata cara ini berhasil, maka kami akan coba bantu untuk membuat doom yang lebih kokoh dan permanen,” ujarnya, Selasa (12/2/2019).

Saran ini juga ditujukan kepada seluruh petani kopi di Kulonprogo karena belum semua kelompok tani memilki bangunan mandiri untuk penjemuran biji kopi. Tercatat baru kelompok tani Dusun Madigondo, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh yang telah memiliki bangunan penjemuran biji kopi. Bangunan itu berkat bantuan bantuan dari Bank Indonesia.

Selain kopi Suroloyo, di Kulonprogo juga terdapat kopi khas lainnya, antara lain kopi Menoreh, Starprog, Rohmat, Jebret dan Kopi Teko. Komoditas ini tersebar di Kecamatan Samigaluh, Girimulyo, Kalibawang dan Temon. Total luas tanam kopi di Kulonprogo 1.452,84 hektare dengan luas panen mencapai 805 hektare. Dari luasan tersebut mampu menghasilkan 435 ton biji kopi pada 2018 lalu.