Wahana Wisata Arung Jeram Harus Bebas dari Kecelakaan

Salah satu pelaku wisata minat khusus, Cahyo Alkantana (kiri) memaparkan materinya saat Bimtek UJP Arung Jeram, di Hotel Royal Darmo, Senin (5/3). - Harian jogja/Uli Febriarni
05 Maret 2019 23:20 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Wisata minat khusus, salah satunya adalah arung jeram di DIY sebisa mungkin mampu mewujudkan pariwisata yang nol kecelakaan (zero accident).

Kabid Industri Pariwisata Dinas Pariwisata (Dispar) DIY, Rose Sutikno, mengatakan walaupun angka kecelakaan di lokasi wisata di DIY tidak tinggi, namun tetap harus diwaspadai. Mewujudkan zero accident membutuhkan peran pemerintah, pengelola wisata dan pengunjung itu sendiri. "Jangan seperti yang belum lama ini terjadi, di Pantai Baron ada wisatawan yang meninggal karena berenang di lokasi yang sudah dilarang. Tapi ia tetap ke sana," ujarnya, di sela Bimtek Usaha Jasa Pariwisata Arung Jeram, di Hotel Royal Darmo, Senin (5/3/2019).

Kalau ada satu kali saja insiden terjadi di satu tempat destinasi wisata minat khusus, maka berita kejadian akan menyebar luas dan berdampak pada menurunnya jumlah kunjungan wisata di sana. Karena itu, melalui bimtek tersebut, poin penting yang harus dipahami peserta adalah peningkatan kompetensi melalui sertifikasi. Dengan adanya kepemilikan sertifikat, berarti mereka telah melalui periode dan persyaratan yang cukup panjang, untuk bisa dikatakan memiliki kompetensi dalam ambil bagian mengelola wisata minat khusus.

Meski begitu, DIY tetap akan memantau dan mengaudit. Pasalnya pemerintah memang bertanggung jawab membina dan mengawasi. Sejauh ini, jumlah pengusaha dan pengelola wisata minat khusus yang sudah tersertifikasi di DIY masih dalam masa pendataan. Namun ia memperkirakan belum ada setengah dari total pengusaha yang ada, sudah tersertifikasi.

Menurut Rose, kondisi ini menandakan mereka sebagai pengelola destinasi bisa dikatakan belum siap 100 %. "Para pemandu secara kompetensi belum terpenuhi, maka betul-betul kami genjot untuk sertifikasinya. Ini memperihatinkan, karena arung jeram adalah kegiatan yang memiliki risiko tinggi. Bila tidak diperhatikan, justru bisa mematikan pariwisata itu sendiri," tuturnya.

Pemerintah DIY mendorong Lembaga Sertifikasi Profesi untuk segera melaksanakan sertifikasi, minimal 20 orang pada 2019 ini. Evaluasi dari Pemda DIY, wisata minat khusus di DIY baik manajemen, pengusaha, sarana prasarana dan kualitas masih harus ditingkatkan.

Pegiat Wisata Minat Khusus, Cahyo Alkantana, mengatakan mewujudkan wisata yang zero accident tidak mudah. Sangat dibutuhkan peran pemerintah, pengelola wisata, pemandu wisata dan seluruh pemegang kepentingan. Namun pada intinya, kunci dari wisata zero accident ada pada pengambil keputusan. "Pengambil keputusan adalah orang yang harus bisa berpikir jernih, bukan mengedepankan kepentingan. Keselamatan adalah yang terdepan," kata dia.

Zero accident tidak lagi hanya berpegang pada kualitas sarana dan prasarana, standar prosedur operasional dan lainnya. Ketika seorang pengambil keputusan tidak mampu mengambil keputusan yang tepat, maka standar hanya tinggal menjadi standar. "Misalnya, cuaca buruk dan kondisi sungai berpotensi banjir besar saat itu. Namun, pengambil keputusan ini ragu dan justru lebih memilih untuk mendapatkan uang dari wisatawan yang terlanjur datang ke lokasi, kemudian saat mereka turun, hal buruk terjadi," ucap dia.