Khawatir Membahayakan Warga, Bantul Protes Proyek Drainase di Kotagede

Ilustrasi drainase - Ist/WSBT
14 Maret 2019 12:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Proyek saluran air hujan (SAH) atau drainase di Jalan Mondorakan dan Jalan Kemasan, Kotagede, Kota Jogja mendapat protes dari warga Bantul. Pasalnya proyek Pemerintah Kota Jogja tersebut sebagian melewati wilayah Bantul, tepanya di Desa Jagalan, Banguntapan, Bantul.

Kepala Desa Jagalan, Banguntapan, Bantul Gono Santoso mengatakan dalam sosialisasi pembuatan drainase itu disampaikan bahwa pembangunan proyek drainase di Jalan Kemasan itu sudah masuk lelang dan akan dimulai pembangunannya 2019 ini. Panjang drainase sekitar satu kilometer sampai sungai Gajahwong.

Sayangnya sekitar 50 meter di hilir drainase itu masuk wilayah Bantul. Gono khawatir adanya drainase tersebut akan berdampak buruk terhadap warga di sekitar bantaran sungai Gajahwong, terutama di pembuangan akhir drainase. Sebab, kawasan tersebut belum ada talut dan jarak rumah warga dengan sungai itu sekitar satu meter jika hujan lebat dan ada peningkatan debit air.

"Yang terdampak langsung ada sekitar 100 kepala keluarga di Dusun Sayangan," kata Gono, seusai mengadu kepada Bupati Bantul Suharsono di ruang Bupati Bantul, Rabu (13/3).

Menurut dia, drainase di Jalan Mondorakan itu bukan hanya menampung air hujan dari sekitar Jalan Mondorakan namun juga dari beberapa wilayah di kota yang bermuara ke drainase tersebut. Sehingga Gono khawatir drainase tersebut dapat menggerus kawasan di bantaran sungai.

Karena itu pihaknya meminta agar sebelum proyek drainase itu dibangun, perlu ada penguatan di kawasan bantaran sungai, salah satunya adalah pembangunan talut sepanjang sekitar 450 meter di hilir drainase ke arah selatan. "Kami coba untuk lindungi masyarakat kami yang di pinggir sungai. Kalau talut dibangun setidaknya masyarakat bia aman dan nyaman," ucap Gono.

Kepala Bidang Sumber Daya Air, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul, Yitno menguatkan pernyataan Kepala Desa Jagalan. Ia mengatakan permintaan warga Bantul sebenarnya tidak muluk-muluk, hanya minta jaminan keamanan dan kenyamanan bahwa drainase itu tidak berdampak buruk di kemudian hari.

Pihaknya mengaku tidak diajak komunikasi terkait rencana pembangunan drainase yang akan memasuki wilayah Bantul tersebut. Ia sempat menanyakan kepada Pemkot Jogja untuk memperkuat talutnya dulu di ujung hilir drainase, namun jawabannya tidak bisa menjanjikan karena tidak ada anggarannya.

Dari informasi yang ia peroleh pembangunan drainase tersebut lebih dari Rp10 miliar dari dana keistimewaan (danais). "Kalau mau [melewati] Bantul syaratnya harus ada penguat tebing dulu. Kalau disetujui baru oke," ujar Yitno.

Dari hasil audiensi dengan Bupati Bantul, Suharsono, pihaknya diminta untuk membuat desain pembangunan wilayah Jagalan termasuk bantaran sungai. Tahun ini rencananya desain engineering detail (DED) selesai melalui anggaran perubahan. Namun untuk kebutuhan anggarannya kemungkinan baru bisa diusulkan 2020 mendatang. 

Yitno ‎mengklaim sudah mendapat jaminan juga dari Pemda DIY terkait pembangunan drainase di kawasan Kotagede tersebut harus selaras dengan pembangunan di Jagalan karena menjadi satu kawasan heritage.