Desa Prima Diharapkan Punya Produk Unggulan

Anggota DPRD DIY, Atmaji, sedang menyampaikan materi dalam sosialisasi dan inisiasi Desa Prima di Balai Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul, Rabu (13/3/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
13 Maret 2019 21:20 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Desa Prima diharapkan memiliki produk unggulan dalam menjalankan usahanya dan produknya bisa memerkuat program pemerintah One Village One Produck (OVOP) atau satu desa satu produk unggulan.

Demikian disampaikan oleh Sony Cahyanto, selaku konsultan dari Small Medium Enterprise Develoment Center (SMEDC) atau lembaga pendamping Desa Prima, dalam sosialisasi dan inisiasi Desa Prima di Balai Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, Rabu (13/3/2019).

Desa Prima merupakan alah satu program pemberdayaan perempuan agar Perempuan Indonesia Maju dan Mandiri (Prima) yang diinisiasi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY. Sasaran Desa Prima adalah kaum perempuan di wilayah-wilayah yang masuk kategori miskin.

Selain Desa Gilangharjo, ada lima desa lainnya di Bantul yang disasar program Desa Prima. Sony mengatakan samapai saat ini sudah ada sekitar 68 Desa Prima di DIY sejak program tersebut digulirkan 2008 lalu. Sampai akhir tahun ini rencananya akan bertambah sampai 100 Desa Prima.

Desa Prima merupakan kelompok usaha yang semua anggotanya perempuan sebanyak 25 orang tiap kelompok. Tahun ini tiap kelompok Desa Prima mendapatkan modal Rp37 juta untuk usaha yang hasilnya bisa untuk menambah pendapatan keluarga. Sebelum menjalankan usaha mereka juga mendapatkan pelatihan usaha hingga pendampingan dalam pengelolaan usaha.

Sony mengatakan banyak Desa Prima yang sudah berjalan. Kondisinya ada yang berkembang, maju, dan ada yang sudah mandiri tanpa harus didampingi. "Yang paling kreatif dan maju justru usaha-usaha pengolahan potensi lokal. Maka tahun ini Desa Prima diharakan memiliki produk unggulan dari potensi lokal. Produk unggulan ini bisa memperkuat program One Village One Produck juga" kata Sony.

Dalam kesempatan tersebut, Sony juga mengajak kaum perempuan di Desa Gilangharjo untuk memanfaatkan potensi lokal sebagai lahan usaha dan menjadi pemasukan bagi keluarga. Selain menjadi masukan tambahan keluarga, lahan usahanya juga dapat memberdayakan warga sekitar.

Dengan demikian, perempuan tidak perlu lagi bekerja jauh dari rumah, apalagi sampai meninggalkan keluarga dalam waktu yang lama. "Perempuan harus berdaya tapi jangan sampai meninggalkan keluarha," kata Sony. Selama tiga tahun ke depan, SMEDC akan mendampingi Desa Prima mulai dari pembentukan kepengurusan, pelatihan usaha, hingga pengelolaan keuangan.

Kasi Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan dan Pengarusutamaan Gender pada Bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, DP3AP2 DIY, Titik Sofijayanti Malah mengatakan adanya program Desa Prima untuk mewujudkan perempuan Indonesia yang maju dan mandiri di bidang ekonomi melalui kegiatan-kegiatan ekonomi produktif.

"Pada akhirnya kegiatan ini dapat mendukung terciptanya kondisi kehidupan yang lebih sehat dan sejahtera, baik di lingkungan keluarga, mayarakat maupun bangsa," ujar Malah.

Tujuan lebih jauh lagi program tersebut diharapkan dapat mengurangi angka kemiskinan di DIY. Karena berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, jumlah penduduk miskin DIY per Maret 2017 ada sekitar 466.000 jiwa atau sekitar 12.36%.

Selain Titik Sofijayanti Malah dan Sony Cahyanto, narasumber dalam sosialisasi dan inisiasi Desa Prima di Balai Desa Gilangharjo adalah Anggota Komisi D, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY, Atmaji.

Atmaji mendukung program Desa Prima sebagai sarana pemberdayaan perempuan di DIY. “Program ini diharapkan bisa turut menekan angka kemiskinan. Terutama di Bantul yang angka rasio gininya masih cukup tinggi,” kata dia. (ADV)