Anak Down Syndrom Tetap Bisa Aktif Berkarya

Sejumlah narasumber yang hadir dalam talkshow Hari Syndroma Down Dunia 2019, didampingi moderator, di Aula Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta (Disdikpora DIY), Sabtu (6/4/2019) - Harian Jogja/Uli Febriarni
07 April 2019 04:37 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Anak dengan down syndrom bisa aktif berkarya seperti orang-orang pada umumnya, baik pada saat masih kecil maupun ketika mereka sudah dewasa dan lulus sekolah.

Ketua Persatuan Orangtua Anak dengan Down Syndrom (POTADS), Sri Rejeki Ekasasi mengungkapkan, anak-anak dengan down syndrom eksis dan memiliki anugerah kelebihan dari Tuhan. Bahkan, anaknya sendiri yang juga menyandang down syndrom ketika dewasa dapat diterima magang di sebuah perusahaan. Kendati demikian, untuk dapat menumbuhkan seorang anak down syndrom yang mampu mengoptimalkan potensi mereka, dibutuhkan lima pilar penguatan.

"Keluarga, kesehatan, pendidikan, masyarakat, pemerintah. Kesehatan meliputi orang-orang yang turun tangan dalam terapi dan menjaga kesehatan sang anak. Sedangkan pendidikan mulai dari guru, kepala sekolah, kurikulum yang mendukung penuh perkembangan kepribadian anak," ujarnya, dalam sambutan membuka talkshow Hari Syndroma Down Dunia 2019, di Aula Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta (Disdikpora DIY), Sabtu (6/4/2019).

Kelima pilar juga perlu bersinergi bersama, agar anak-anak dengan down syndrom bisa berkarya di bidang bisnis, bekerja atau lewat cara mereka sendiri. Talkshow ini hadir, untuk menjawab dan memberikan solusi dari pertanyaan yang muncul saat ini mengenai anak berkebutuhan down syndrom. Perihal masa depan mereka usai lulus sekolah, khususnya jenjang menengah atas.

Kepala Bidang Pendidikan Luar Biasa dan Pendidikan Dasar Disdikpora DIY, Bachtiar Nur Hidayat menjelaskan, menjadikan anak-anak down syndrom mandiri dan hebat adalah mimpi Disdikpora DIY. Kendati demikian, adanya sejumlah kekurangan dalam pengelolaan sekolah, maka perjuangan berat harus dialami para pendidik. Baik itu tenaga pendidik di sekolah inklusi maupun sekolah luar biasa (SLB).

"Sehingga Disdikpora menaruh harapan besar kepada orang tua, agar ikut aktif dan mengoptimalkan pendidikan bagi anak down syndrom. Karena sejatinya sebagai bagian dari tri pusat pendidikan, pendidikan anak diawali dari keluarga," katanya.

Menurut dia, dalam bekerja dan berkarya, sumber daya manusia (SDM) anak-anak dengan down syndrom memiliki keunggulan ketimbang anak atau tenaga kerja reguler. Misalnya terkait kerajinan, keriangan, kedisipilinan. Karena ketika seorang anak down syndrom sejak awal dididik dan ditanamkan sikap positif, maka sikap itu akan terus menancap dalam diri mereka.

Apalagi, regulasi pemerintah jelas, memberi kuota tenaga kerja berkebutuhan khusus minimal satu persen pada perusahaan swasta dan dua persen untuk pegawai negeri sipil. "Kami berharap, itu bukan hanya dipenuhi karena formalitas dan memberi mereka [penyandang down syndrom] pekerjaan ringan. Namun beri mereka kesempatan dan porsi secara kualitas kompetensi, sebagai wujud kepedulian terhadap sesama," kata dia.