Mahasiswa UGM Kenalkan Aplikasi Meet Pharmy

Logo UGM. - JIBI
15 Mei 2019 22:22 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan aplikasi Meet Pharmy, sebuah permainan yang mengajak anak mengenal seluk-beluk farmasi dengan mudah dan tidak lagi takut minum obat.

Mereka yang mengembangkan aplikasi tersebut antara lain Ris Heskiel Najogi Sitinjak, Shinta Diva Ekananda, Wahyunanda Crista Yuda, Muhammad Fikri Abdillah, dan Muhammad Sulhan Hadi, yang merupakan mahasiswa Fakultas Farmasi. Ada juga Luh Rai Maduretno Asvinigita, Lutfiana Pasebhan Jati dari Sekolah Vokasi dan Laksa Ersa Anugratama dari Fakultas Peternakan.

Ris Heskiel Najogi Sitinjak mengungkapkan aplikasi permainan ini dibuat untuk untuk mengenalkan profesi apoteker, terutama kepada anak-anak usia dua tahun hingga 14 tahun. Selain itu, menumbuhkan minat serta wawasan anak-anak terhadap profesi apoteker. Aplikasi permainan ini, diklaim sebagai permainan kefarmasian yang kali pertama dibuat di Indonesia.

"Aplikasi ini mengenalkan anak-anak dengan obat-obat farmasi yang bisa dikonsumsi tanpa resep dokter. Lewat permainan ini kami juga ingin mengubah pandangan anak-anak yang selama ini menyebut kalau obat itu pahit dan tidak menyenangkan," kata dia, di ruang pertemuan Humas dan Protokol UGM, Rabu (15/5/2019).

Meer Pharmy telah dikembangkan sejak November 2018 lalu. Aplikasi ini juga menjadi salah satu upaya tim untuk mentransfer informasi kesehatan kepada anak-anak, khususnya komunikasi apoteker dengan pasien. Anak-anak akan diajak untuk merasakan pengalaman berkonsultasi dengan seorang apoteker bernama Pharmy.

“Pharmy akan memberikan resep dan juga menjelaskan pentingnya menjalankan gaya hidup sehat agar tidak mudah terserang penyakit,” tuturnya.

Lutfiana Pasebhan Jati mengatakan Meet Pharmy memiliki sejumlah fitur meliputi tiga kasus penyakit sederhana yang kerap dialami anak-anak, yakni batuk, pilek dan demam. Selain itu, dilengkapi pula dengan fitur modul untuk orang tua yang memuat informasi seputar penyakit yang disajikan.

Dari permainan ini, nantinya anak bisa mempelajari, apa saja yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan setelah pulang dari mendapatkan obat. Misalnya, mereka harus istirahat yang cukup, banyak minum air putih, dan mengonsumsi sayuran.

"Orang tua juga bisa memantau permainan yang diikuti anak-anak. Termasuk mengetahui obat apa saja yang bisa dikonsumsi untuk anak yang pilek, batuk, demam," tuturnya.

Wahyunanda Crista Yuda mengatakan tim terus mengembangkan aplikasi Meet Pharmy. Salah satunya dengan penambahan bahasa baru dalam aplikasi ini. Apabila sebelumnya aplikasi hanya tersedia dalam bahasa Inggris, saat ini telah ditambahkan bahasa Indonesia.

Tidak hanya itu, desain menu utama juga dibuat lebih atraktif. Di samping itu juga ada pembaruan beberapa tampilan scene gambar, bahasa perintah dalam permainan lebih singkat, serta penyempurnaan langkah-langkah permainan.
"Meet Pharmy sudah bisa diunduh di Google Play Store," ungkapnya.

Laksa Ersa Anugratama mengungkapkan pengembangan lain yang akan dilakukan misalnya menambahkan fitur bentuk gambar molekul pembentuk obat.

"Misalnya obat batuk kan ekspektoran. Nah, kami ingin menghadirkan bentuk molekul ekspektoran yang lebih sederhana dan mudah dipahami serta diingat anak-anak," ucapnya.

Aplikasi ini tidak hanya menghadirkan permainan edukatif bagi anak-anak, tetapi juga berhasil menghantarkan kedelapan mahasiswa tersebut meraih medali perak dalam World Young Inventor Exhibition dalam International Invention, Innovation & Technology Exhibition (ITEX) 2019, di Malaysia, 2-4 Mei 2019. Sebelumnya juga mendapatkan medali emas dari kategori Medicine and Public Health di Thailand Inventors’ Day 2019 pada 2-6 Februari 2019 di Bangkok.