Desain Stasiun Tugu Tunggu Bakal Mengacu Rekomendasi UNESCO

Ilustrasi Stasiun Tugu Yogyakarta
24 Mei 2019 10:27 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pengembangan kawasan terpadu Stasiun Tugu Jogja akan dilakukan tahun ini. Pengembangan kawasan heritage tersebut diharapkan selesai hingga tiga tahun ke depan.

Walikota Jogja Haryadi Suyuti mengatakan progres rencana pengembangan kawasan terpadu Stasiun Tugu sudah dilaporkan kepada Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Di kawasan tersebut nantinya akan dikembangkan sebagai kawasan terintegrasi di mana selain kereta bandara, di kawasan tersebut juga akan dibangun museum, kawasan hunian dan komplek komersial. 

"Total luas tanah yang akan dikembangkan 8.000 meter persegi atau 8 hektare. Adapun luas total bangunan di kawasan itu menjadi 135.000 meter persegi atau 13,5 hektare bangunannya. Ya antara 3-4 lantai," kata Haryadi kepada Harian Jogja, Kamis (23/5/2019).

Lokasinya di sisi Barat Stasiun Tugu, sekitar 300 meter ke arah barat dan dari teteg parkir stasiun ke Utara sekitar 150 meter. Penataan akan dilakukan di lokasi tersebut. Lokasi yang dipilih merupakan kawasan pergudangan. "Total dana yang akan digunakan untuk penataan dan pengembangan kawasan tersebut kurang lebih Rp850 miliar. Komposisi pendanaan 30 persen PT KAI dan 70 persen PT Hutama Karya melalui kredit sindikasi," katanya.

Haryadi menambahkan, pemerintah baik Pemda DIY maupun Pemkot Jogja sedang menyiapkan kawasan heritage tersebut. Salah satunya desain pengembangan yang sesuai dengan rekomendasi UNESCO. Tim pengembang saat ini terus menyelesaikan desain pembangunannya dan berkomunikasi dengan Dinas Kebudayaan agar sesuai dengan koridor pengembangan kawasan heritage.

"Jadi itu didesain juga agar tidak meninggalkan kawasan heritage. Rekomendasi dari UNESCO belum turun. Tim pengembang terus berkomunikasi dengan Disbud agar nantinya jika tim dari UNESCO datang tidak banyak desain yang berubah," katanya. 

Dijelaskan Haryadi, pengembangan kawasan heritage memiliki dua tantangan. Pertama soal jumlah penduduk yang erat kaitannya dengan aktivitas di lokasi yang akan dikembangkan, dan kedua terkait masalah investasi. Heritage yang dimaksud lebih pada aksesoris bangunan, identitas bangunan dan sebagainya. "Bagaimana menjaga singkronisasi antara kegiatan investasi dengan identitas kawasan. Makanya kami terus komunikasikan," katanya.