Konsumsi pada Ramadan & Lebaran Bakal Dongkrak PDB

Pedagang menata ketupat yang terbuat dari daun kelapa atau janur di Kota Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Minggu (2/6/2019). - Antara/Syifa Yulinnas.
11 Juni 2019 06:27 WIB Hadijah Alaydrus & Puput Ady Sukarno Jogja Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) yakin konsumsi dalam negeri pada kuartal II/2019 tetap terjaga meski ekonomi dunia melambat.

Gubernur BI Perry Warjiyo menuturkan, konsumsi pada kuartal kedua tahun ini akan meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya seiring adanya momentum Ramadan dan Lebaran. Peningkatan ini diprediksi akan mendongkrak laju produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II/2019.

“Itu juga terlihat dari sejumlah survei dan indikator penjualan ritel di sejumlah pasar khususnya di perdagangan hotel restoran biasanya naik, dan konsumsi rumah tangga biasanya naik,” kata Perry, pekan lalu.

Selain Ramadan dan Lebaran, pencairan tunjangan hari raya (THR) serta gaji ke-13 pegawai negeri sipil (PNS) akan turut mengerek laju konsumsi masyarakat. Apalagi, momentum pencairan ini bersamaan dengan libur sekolah.

“Ini ditopang faktor domestik yaitu Ramadan, Idulfitri, dan liburan sekolah yang akan mendorong peningkatan konsumsi yang juga didukung oleh cairnya THR dan gaji ke-13 PNS,” imbuh Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, pada libur Lebaran tahun ini terjadi perubahan tren konsumsi masyarakat dari pemenuhan kebutuhan sandang ke kebutuhan leisure.

“Perubahannya ada. Belanja pakaian jadi mulai berkurang bergeser ke belanja leisure, seperti rekreasi, perhotelan, makanan minuman, oleh-oleh, dan restoran,” ujarnya, Minggu (9/6/2019).

Menurutnya, pergeseran tersebut terjadi karena harga baju atau pakaian saat ini dinilai semakin terjangkau, sehingga tradisi membeli baju baru saat Lebaran mulai ditinggalkan.

Apalagi, lanjut Bhima, saat ini masyarakat lebih gemar melakukan belanja online seiring penetrasi dan akses internet yang semakin merata di wilayah Indonesia.

“Tren belanja online perlahan menggeser pendapatan di toko konvensional. Banjir diskon dan potongan ongkos kirim di toko online saat Lebaran juga efektif menaikkan pembeli,” ujarnya.

Meski tumbuh positif, dia menilai konsumsi tidak mengalami perubahan yang signifikan jika dibanding kuartal II/2018 yakni 5,16% secara year on year (yoy). Sebab, masyarakat kelas menengah dan atas tidak langsung membelanjakan uangnya.

“Waktu Lebaran yang mendekati tahun masuk ajaran baru sekolah juga membuat sebagian masyarakat melakukan saving untuk kebutuhan investasi dan persiapan pengeluaran tahun ajaran baru di sekolah,” jelasnya.

Selain itu, dia menilai tidak sedikit masyarakat yang memilih menyisihkan sebagian dananya untuk disimpan, baik untuk kebutuhan investasi maupun dana siaga.

Sejalan dengan terdongkraknya konsumsi setelah Lebaran, bank sentral memproyeksikan PDB pada triwulan kedua berpotensi lebih baik dibandingkan tiga bulan pertama tahun ini.

Pada Mei lalu, BI merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2019 menjadi di bawah 5,2% menyusul penurunan ekonomi global dan juga pelemahan ekspor.

BI sebelumnya masih meyakini pertumbuhan ekonomi sepanjang 2019 di kisaran 5%-5,4%. Adapun pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2019 sebesar 5,07%, meleset dari perkiraan BI yakni sebesar 5,2%.

Di sisi lain, BI tengah memantau realisasi investasi swasta yang berpotensi tertekan seiring impor yang turun. Investasi diperkirakan baru meningkat pada semester kedua.

Menurut Dody, investor yang saat ini masih wait and see diperkirakan akan kembali menanamkan dananya di Tanah Air seiring stabilitas dan prospek ekonomi yang positif pada paruh kedua tahun ini. Terutama setelah adanya kepastian mengenai hasil pemilihan presiden di Mahkamah Konstitusi (MK) dan pembentukan kabinet.

SUKU BUNGA

Di sisi lain, BI diprediksi masih mempertahankan suku bunga acuan kendati bank sentral di sejumlah negara regional telah melakukan pemangkasan.

JP Morgan memperkirakan, sejumlah bank sentral di Asean akan memotong suku bunga sekitar 25 bps-50 bps. Indonesia diproyeksikan akan mengalami dua kali pemotongan suku bunga, yakni pada September dan Desember masing-masing sebesar 25 bps.

Namun, menurut Direktur Riset Core Indonesia Piter R. Abdullah, BI akan berhati-hati dalam menurunkan suku bunga 7-Day Reverse Repo Rate (7DRRR). Pasalnya, nilai tukar rupiah yang rentan membuat Indonesia tidak bisa sepenuhnya independen dalam menetapkan kebijakan suku bunga.

“Berbeda dengan Australia dan India yang struktur ekonomi dan nilai tukar mata uangnya lebih kuat, Indonesia tidak bisa dengan bebas menurunkan suku bunga,” kata Piter.

Dia menambahkan, BI harus mengkaji secara cermat risiko penurunan suku bunga terhadap aliran modal dan pergerakan rupiah. Dalam hal ini, BI harus bisa memprediksi secara tepat arah kebijakan The Fed.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David E. Sumual menilai, BI masih akan terkendala dengan kondisi external balance Indonesia, yakni defisit transaksi berjalan yang masih tinggi pada semester pertama tahun ini. Alhasil, sasaran defisit transaksi berjalan terhadap PDB bergeser dari 2,5%.

“Kondisi inflasi yang terkendali saat ini sebenarnya sangat memungkinkan untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih longgar, [tetapi] kendalanya masih soal keseimbangan eksternal kita,” papar David. Hal tersebut telah ditegaskan BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Mei lalu.

Proyeksi sasaran pengendalian defisit transaksi berjalan diubah menjadi 2,5%-3% terhadap PDB dari semula 2,5% terhadap PDB. Keputusan tersebut diambil setelah BI melihat dampak penurunan ekonomi global serta perang dagang yang merembet ke kanal perdagangan dan keuangan.

Kendati demikian, David melihat kemungkinan penurunan suku bunga BI pada semester kedua tahun ini seiring dengan sinyal penurunan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) oleh Bank Sentral Amerika Serikat.

Pekan lalu, Reserve Bank of India (RBI) menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Sebelumnya, The Reserve Bank of Australia (RBA) menempuh kebijakan serupa dengan memangkas suku bunganya sebesar 25 bps menjadi 1,25%.

Langkah pelonggaran suku bunga juga telah diambil oleh Bank Negara Malaysia bulan lalu dan Bangko Sentral ng Pilipinas kemungkinan akan mengambil kebijakan yang sama dalam waktu dekat.

Hampir seluruh bank sentral mengutip perlambatan ekonomi dan kegiatan investasi sebagai penyebab dibalik pemangkasan suku bunga.

Sementara itu, pada Mei 2019, BI telah mengubah stance kebijakan moneternya menjadi waspada, netral dan berbasis data (cautious, neutral and data dependacy) dari sebelumnya yang cenderung ketat.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia