Ini Penyebab Kunjungan Wisata di Mangunan Dlingo Menurun

Wisatawan berswafoto di Bukit Mojo, Gumelem, Mangunan, Bantul./ Ist. - FIKOMM UMBY
11 Juni 2019 21:57 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL- Jumlah wisatawan yang berkunjung ke sejumlah objek wisata selama liburan Idulfitri 1440 Hijriah tahun ini berkurang dibanding tahun lalu. Pengelola wisata menyebut rekayasa lalu lintas menuju kawasan Mangunan menjadi salah satu faktor menurunnya kunjungan wisatawan di objek wisata yang menawarkan keindahan alam dari atas perbukitan tersebut.

Ketua Koperasi NotowonoObjek Wisata Mangunan, Dlingo, Bantul, Purwo Harsono mengatakan jumlah kunjungan wisatawan ke semua objek wisata kawasan Mangunan sejak hari pertama Lebaran sampai tiga hari setelah Lebaran hanya sekitar 49.000-an orang. Sementara pada momen yang sama di tahun lalu bisa mencapai sekitar 62.000-an orang. “Jumlah kunjungan wisatawan itu akumulasi dari sembilan objek wisata di Mangunan dari Pinus Pengger sampai Bukit Pengger,” kata Harsono, saat dihubungi Selasa (11/6/2019).

Pria yang akrab disapa Ipung ini mengatakan H+4 lebaran jumlah pengunjung ke Mangunan dalam sehari hanya 24.600. sementara di waktu yang sama pada lebaran 2018 mencapai 32.300 pengunjung dalam sehari. Demikian pada H+5 lebaran yang menjadi puncak arus balik jumlah pengunjung sebanyak 14.300 orang. Jauh lebih sedikit di banding waktu yang sama di lebaran tahun lalu yang bisa mencapai lebih dari 21.600 orang.

Ipung mengakui dari tahun ke tahun adanya tren penurunan jumlah pengunjung menuju mangunan terutama ke objek wisata yang dikelola masyarakat melalui koperasi. Koperasi Notowono merupakan wadah pengelola wisata di wilayah Mangunan. Penurunan tersebut diakuinya terjadi karena beberapa faktor, di antaranya adalah belum adanya inovasi yang mencuat di wilayah Mangunan.

“Sejauh ini objek wisata di Mangunan masih sekadar menawarkan keindahan alam. Belum ada hal baru, seperti atraksi budaya,” kata Ipung.

Selain belum ada inovasi, kata Ipung, dari hasil evaluasi sementara para pengelola wisata soal rekayasa arus lalu lintas menuju Mangunan yang tidak bersahabat. Selama libur Lebaran, kepolisian dan Dinas Perhubungan mengeluarkan imbauan agar kendaraan besar seperti bus pariwisata dan truk bermuatan tidak diperkenankan melewati Jalan Imogiri-Mangunan dan Jalur Pleret-Dlingo atau Jalur Cinomati.

Kebijakan tersebut bukan kali ini saja, namun tahun lalupun sudah diberlakukan. Yang menjadi pertimbangan polisi dan petugas Dinas Perhubungan mengeluarkan imbauan tersebut karena alasan keselamatan terutama bagi sopir yang baru pertama melintas jalur tersebut. Semua kendaraan yang akan menuju Mangunan akhirnya dialihkan lewat Patuk, Gunungkidul.

Namun sejak hari pertama Lebaran sampai H+4, jalur menuju Mangunan di Simpang Patuk diberlakukan buka tutup. Kendaraan dari arah Jogja yang seharusnya bisa langsung berbelok kanan menuju Mangunan di Simpang Patuk harus lurus ke timur. Akibatnya banyak rombongan wisatawan yang membatalkan berkunjung ke Mangunan. “Itu pengaturan soal lalu lintas juga yang benar-benar terasa [dampaknya penurunan jumlah wisatawan],” ujar Ipung.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Heru Prabowo mengamini keluhan pengelola wisata di Mangunan dan sekitarnya itu. Keluhan tersebut juga menjadi salah satu poin evaluasi Dinas Pariwisata yang akan disampaikan pada pimpinan. Ia mengatakan kebijakan rekayasa lalu lintas menjadi kewenangan polisi dan Dinas Perhubungan. Intansi yang berwewenang tersebut bukan hanya di Pemkab Bantul namun juga melibatkan wilayah Gunungkidul sehingga pemecahannya, kata dia, tidak bisa melalui Dinas Pariwisata Bantul, melainkan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah tingkat provinsi. “Ini jadi bagian evaluasi kami yang akan kami sampaikan pada pimpinan,” kata Kwintarto.