Ribuan Ikan di Laguna Trisik Mati, Petambak Udang Menolak Disalahkan

Kondisi laguna Pantai Trisik yang dipenuhi ribuan bangkai ikan, Selasa (11/6/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
11 Juni 2019 18:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Petambak udang di kawasan laguna Pantai Trisik, Kecamatan Galur, Kulonprogo menolak disalahkan terkait kasus kematian ribuan ikan di laguna tersebut yang diduga akibat tercemar limbah tambak.

Dari pantauan di lapangan, hampir seluruh tambak, terutama yang berdekatan dengan laguna membuang limbahnya di laguna tersebut. Teknis pembuangannya dengan cara memanfaatkan lubang penghubung saluran limbah dari tambak menyalur ke area laguna yang dikelola oleh Kelompok petani ikan Bandeng Jaya itu.

Adapun dari total tiga laguna di Pantai Trisik, kematian ikan paling banyak terdapat di laguna sisi timur. Kebanyakan ikan yang mati berjenis bandeng. Beberapa di antaranya juga ada nila, tapi jumlahnya lebih sedikit.

Salah satu petambak udang, Dwi, mengantakan aktivitas pembuangan limbah ke Laguna Pantai Trisik merupakan hal biasa. Dia mengaku tidak mendapat keluhan dari masyarakat, terutama kelompok pengelola laguna. Dia juga menolak jika pihaknya disebut sebagai biang keladi kematian ribuan ikan.

"Kami sudah ada di sini sejak lama, dan ikan mati itu hal biasa, masyarakat sekitar juga sudah memakluminya, lagian ikan pada mati itu karena air laguna surut," ujarnya, Selasa (11/6/2019).

Kasus kematian ribuan ikan di Laguna Pantai Trisik mendapat perhatian banyak pihak. Jajaran Kepolisian Daerah DIY, bahkan terjun langsung menyelidiki kasus ini.

Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yulianto mengatakan, sebanyak lima personil dari Polairud Polda DIY, telah ditugaskan untuk melakukan penyelidikan di lapangan. Hingga saat ini petugas masih mengumpulkan data dan keterangan dari semua pihak terkait.

"Kami belum bisa pastikan penyebab pasti kematian ini," kata Yulianto.

Penyuluh Perikanan, Kecamatan Galur, Suprihatin mengatakan tambak bukan satu-satunya penyebab kematian ribuan ekor ikan tersebut. Sebelum ada tambak, kata dia, peristiwa serupa pernah terjadi.

"Sekitar 2011, saat belum banyak tambak udang di sini, kasus kematian ikan sudah terjadi, dan ini sebenarnya merupakan hal biasa, karena tiap tahun pasti ada kasus ikan mati, dibandingkan tahun lalu [2018], jumlahnya malah cenderung lebih sedikit," kata Suprihatin saat ditemui di Laguna Pantai Trisik, Selasa siang.

Dia menjelaskan, penyebab kematian itu bisa saja karena faktor alam. Mengingat saat ini tengah memasuki musim kemarau, sehingga volume air di laguna berkurang. Pengurangan volume ini berdampak pada terangkatnya endapan lumpur. Inilah yang kemudian membuat ikan mati.

"Dengan kondisi ini ditambah adanya limbah yang dibuang di laguna memang berefek pada kematian ikan," jelasnya.

Menurutnya, yang bisa dilakukan untuk meminimalisir munculnya peristiwa serupa adalah dengan mengurangi aktivitas pembuangan limbah di laguna. Petambak perlu memiliki tempat khusus seperti IPAL Komunal yang diperuntukkan sebagai lokasi pembuangan.

"Sebenarnya dulu sempat ada rencana membuat lokasi pembuangan limbah dari pemerintah pusat, tapi terganjal lahan, karena di sini kan tanah Pakualaman, dan pusat tidak menghendaki, kalau milik warga pribadi atau kas desa mungkin bisa direalisasikan," kata dia.