Temui Buya Syafi'i Ma'arif, Menhan Ryamizard Ryacudu Khawatirkan Kondisi Bangsa Tambah Buruk

Menhan Ryamizard Ryacudu (kiri) saat berkunjung ke kediaman Buya Syafi'i Ma'arif, di Jogja, Selasa (11/6/2019) - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
11 Juni 2019 20:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Menteri Pertahanan (menhan) Ryamizard Ryacudu berkunjung ke kediaman pribadi tokoh bangsa Buya Ahmad Syafi'i Ma'arif pada Selasa (11/6/2019). Kunjungan tersebut dalam rangka silaturahmi antartokoh bangsa pasca-Lebaran.

Menhan Ryamizard Ryacudu mengatakan jika kunjungannya ke kediaman pribadi Buya Syafi'i Ma'arif tidak ada hubungannya dengan isu politik.

"Terkait masalah agama, masalah moral, kita prihatin kalau situasi ke depan ini tambah buruk, itu yang kita khawatirkan tapi Insyaallah tidak terlalu buruk. Mudah-mudahan pihak pihak tertentu tahu apa yang dilaksanakan, kalau bangsa ini berantakan, porak poranda, yang rugi kan bangsa ini juga, jadi mari kita rawat bangsa ini," kata Menhan, di Sleman, Selasa (11/6/2019).

Menhan mengatakan, setelah Idulfitri umat Muslim dianjurkan saling silaturahmi. "Itu perintah dari Tuhan, jadi tidak ada masalah apa apa, murni silaturahim dan saya sering ke sini," tegasnya.

Ketika disinggung mengenai Tim Mawar yang diduga terlibat dalam kerusuhan 21-22 Mei 2019, Menhan mengatakan jika jangan ada upaya untuk membangkitkan isu terkait dengan tim mawar. "Tim mawar sudah selesai, sudah ada hukuman segala macam, jangan dibangkitkan lagi," ungkapnya.

Kendati demikian, jika ada keterlibatan kerusuhan 21-22 Mei 2019 lalu, hal tersebut menjadi wewenang kepolisian untuk mengusutnya.

Menhan menjelaskan, jika negara Indonesia merupakan negara hukum, hukum panglima tertinggi, hukum harus ditaati dan panglima tertinggi hukum. "Harus ditaati, siapapun, baik itu tentara atau polisi, siapapun maupun ulama, umara, harus ditaati hukum itu, kalau kita mau negara ini baik," ujarnya.

Senada dengan Menhan, Buya Syafi'i Ma'arif mengatakan jika pertemuannya dengan eks Kepala Staf Angkatan Darat 2002 hingga 2005 ini tak membicarakan isu politik praktis. Namun, ia lebih memilih untuk membicarakan terkait dengan sosok Ryamizard Ryacudu.