Jaga Keutuhan Bangsa, KAHMI DIY Gelar Syawalan

Kahmi DIY saat mengunjungi Kantor Harian Jogja, Rabu (26/6/2019). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
26 Juni 2019 19:47 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) DIY akan menyelenggarakan syawalan dengan kemasan dialog interaktif dengan tema Kepemimpinan Bangsa Berbasis Nurani dan Logika, Jumat (28/6/2019), di Auditorium Universitas Islam Indonesia (UII), Jalan Cik Ditiro No.1, Jogja.

Kegiatan tersebut akan menghadirkan beberapa pakar dari berbagai bidang, mulai dari Jimly Ashiddiqie selaku Ketua Mahkamah Konstitusi 2003-2008, Mudzakir selaku pakar hukum pidana UII, Kuskridho Ambardi selaku peneliti utama Indikator Politik Indonesia, dan Lukman Hakiem Hasan selaku dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo.

Ketua KAHMI DIY, Khamim Zarkasi Putro, menjelaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari munculnya keterbelahan di antara masyarakat sebagai efek dari Pemilu 2019.

"Keterbelahan ini sebenarnya sudah berakhir, tetapi kembali mengerucut ketika persoalan 01 [Jokowi-Ma'ruf] dan 02 [Prabowo-Sandi] dibawa ke MK [Mahkamah Konstitusi]," katanya saat berkunjung ke Kantor Harian Jogja, Rabu (26/6/2019).

Ia menjelaskan, momen Idulfitri pada 2019 ini kebetulan berlangsung tidak lama dengan penyelenggaraan Pilpres dan Pileg. Pemilu pada 17 April sementara Idullfitri pada 5 Juni.

Ia mengatakan, kehidupan masyarakat yang semula terkubu dalam 01 dan 02, seolah normal kembali menjadi 00 atau malah 03, yang dalam ideolgi bernegara berarti sila Persatuan Indonesia.

"Ketegangan yang semula dirasakan telah mereda itu kemudian seperti membara kembali ketika persoalan pemilu di bawah ke MK. Warga yang semula rukun, kembali dibelah dan saling berhadapan," katanya.

KAHMI sendiri sebagai salah satu organisasi yang aktif dan memiliki kader yang aktif di berbagai parpol berupaya untuk mencegah adanya disintegrasi bangsa.

Melalui syawalan itu, KAHMI ingin menyegarkan kembali pemahaman masyarakat terhadap tatanan hukum maupun tatanan politik di Indonesia, melakukan pengkajian ulang apa saja kelemahan dan kelebihannya, serta apa saja yang perlu dievaluasi dari tatanan tersebut.

"Tentu tentang bagaimana menjalankan tatanan itu agar bisa memberi konstribusi optimal bagi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai, bersatu, berdaulat, dan juga sejahtera," katanya.

Ketua Panitia Syawalan, Wahyudi, mengatakan KAHMI ingin memperkuat semangat kebersamaan, keutuhan, dan kekeluargaan yang sering terkikis oleh hal-hal kecil.

"Kita ingin tetap rukun," katanya.

Panitia menargetkan syawalan tersebut dihadiri oleh 150 orang.