Puncak Musim Kemarau, 15 Kecamatan Diprediksi Dilanda Kekeringan

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
26 Juni 2019 18:12 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul memprediksi puncak musim kemarau tahun ini terjadi pada Agustus. Pada saat puncak, 15 kecamatan diperkirakan terdampak kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan jajarannya melakukan koordinasi dengan BMKG DIY terkait dengan musim kemarau. Menurut dia pada masa puncak musim kemarau jumlah wilayah terdampak kekeringan akan bertambah dan hampir menyasar ke seluruh daerah di Gunungkidul. Dari 18 kecamatan yang ada, hanya tiga kecamatan yang bebas dari krisis air bersih meliputi Wonosari, Karangmojo dan Playen. “Sisanya sebanyak 15 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan,” kata Edy kepada wartawan, Rabu (26/6/2019).

Menurut dia, hingga saat ini sudah ada 10 kecamatan yang mulai terdampak kekeringan. Namun demikian dari jumlah tersebut baru lima kecamatan meliputi Girisubo, Tepus, Rongkop, Panggang dan Paliyan yang telah resmi mengajukan permohonan bantuan air bersih ke BPBD. Lima kecamatan lain yang terdiri dari Patuk, Purwosari, Semin, Semanu dan Gedangsari masih sebatas informasi secara lisan. “Kalau ada permintaan resmi, maka kami akan kirim bantuan. Hingga sekarang bantuan air bersih ke daerah-daerah rawan sudah berjalan,” kata Edy.

Menurut dia, untuk bantuan air bersih tahun ini BPBD mengalokasikan anggaran Rp530 juta. Rencananya bantuan air disalurkan menggunakan enam mobil tangki dan satu unit sebagai armada cadangan. Penyaluran bantuan air bersih tak hanya dilakukan BPBD. Pemerintah kecamatan juga memiliki anggaran. Selain itu, kata Edy, berdasarkan pengalaman di tahun-tahun sebelumnya pihak swasta juga banyak yang berpartisipasi dalam penyaluran. “Harapannya ada koordinasi sehingga bantuan bisa efektif dan tepat sasaran,” kata dia.

Sekretaris Camat Girisubo, Arif Yahya, mengatakan selama ini untuk mengatasi krisis air di Kecamatan Girisubo masih mengadalkan program bantuan air bersih, baik yang dilakukan kecamatan maupun BPBD. Ia berharap untuk mengatasi krisis peran dari PDAM dioptimalkan melalui perluasan penyambungan pipa sehingga instalasi dapat dirasakan secara luas. “Harapannya PDAM bisa menambah sambungan baru di wilayah Girisubo sehingga masalah air bersih bisa diatasi khususnya pada saat kemarau,” katanya.