50 Orang Ikut Jalan Sehat untuk Odapus

Jalan Sehat Charity Walk For Lupus pada hari Sabtu (29/6/2019). - Ist/ Dok Panitia
01 Juli 2019 15:37 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Sebanyak 30 orang menjadi peserta Jalan Sehat Charity “Walk For Lupus” pada hari Sabtu (29/6/2019). Kegiatan ini bertujuan mendapatkan charity dari perusahaan/instansi serta masyarakat umum yang akan diserahkan kepada Sahabat Cempluk di Jogja serta meningkatkan awareness mengenai penyakit Lupus di Jogja.

Salah satu panitia, Precy Permata mengatakan jalan sehat yang berlangsung pukul 14.00-17.00 ini mengambil start dan finish di Waroeng Boe Londo Kotabaru. 

"Selain mendapatkan charity dari perusahaan/instansi serta masyarakat umum kami ingin meningkatkan awareness mengenai penyakit Lupus," katanya, dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Minggu (30/6/2019).

Target acara ini yaitu seluruh kalangan umur, namun dibatasi hanya 50 orang saja. Peserta dikenakan biaya pendaftran sebesar Rp150.000 dan dengan harga tersebut akan mendapatkan fasilitas yaitu T-Shirt serta Charity untuk Odapus (Orang Dengan Lupus).

 Setelah mengelilingi rute Kotabaru, partisipan mengikuti rangkaian acara yaitu pembagian Doorprize dan dapat melakukan sesi sharing dan diskusi dengan temen-temen Odapus yang akan hadir.

Ia menambahkan penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus adalah penyakit yang ditandai dengan produksi antibodi yang berlebihan terhadap komponen inti sel, dan menimbulkan berbagai macam manifestasi klinis pada organ (Cleanthous, Tyagi, Isenberg, & Newman, 2012).

Penyebab pasti dari penyakit lupus sampai saat ini masih belum diketahui. Namun terdapat beberapa faktor yang diduga menjadi faktor risiko dari penyakit ini, yaitu genetik, lingkungan, regulasi sistem imun, hormonal, dan epigenetic. Odapus atau ‘Orang dengan Lupus’ merupakan istilah untuk orang yang terkena lupus.

Odapus harus berhadapan dengan berbagai macam keterbatasan aktivitas yang disebabkan oleh kemungkinan munculnya tanda dan gejala penyakit. Hal ini bukan tidak mungkin dapat memengaruhi aktifitas kesehariannya. Mereka tidak boleh terkena sinar matahari secara terus menerus, terlalu lelah, dll.

World Health Organization mencatat jumlah penderita lupus di dunia hingga saat ini mencapai lima juta orang, dan setiap tahunnnya ditemukan lebih dari 100 ribu kasus baru. Menurut data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) Online 2016, terdapat 2.166 pasien rawat inap yang didiagnosis penyakit lupus.

Tren ini meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 2014, dengan ditemukannya 1.169 kasus baru. Tingginya angka kematian akibat lupus perlu mendapat perhatian khusus karena 25% atau sekitar 550 jiwa meninggal akibat lupus pada tahun 2016.

Mengutip dari data Kemenkes, sebagian penderita lupus adalah perempuan dari kelompok usia produktif (15-50 tahun), meski begitu lupus juga dapat menyerang laki-laki, anak-anak, dan remaja.

Salah satu efek yang sangat terlihat dan menjadi ciri pada Odapus adalah adanya butterfly rush (kemerahan pada wajah di sekitar pipi) yang dapat menurunkan kepercayaan diri dan tidak jarang mengakibatkan depresi. Studi yang dilakukan di Iran tahun 2005 menyebutkan dari 85 pasien SLE yang diteliti terdapat 60% yang menderita depresi.

Gejala-gejala depresi yang sering muncul pada responden, antara lain kelemahan dan kelelahan (88,2%), kesedihan (77,6%), perasaan mudah tersinggung (82,3%), sedangkan gejala yang terkadang muncul, antara lain kehilangan berat badan (34,1%), penurunan energi (28,2%), sampai pada ide untuk bunuh diri (10,5%) (Zakeri, et al., 2012).