PESPA, Mesin Pencacah Serabut Kelapa Ramah Lingkungan

Tim PKM-T PESPA Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menunjukkan mesin pencacah serabut kelapa yang berhasil diinovasi menjadi lebih ramah lingkungan.-Harian Jogja - Ist
05 Juli 2019 13:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menciptakan mesin pencacah serabut kelapa ramah lingkungan untuk dikembangkan salah satu industri pembuatan mesin serabut kelapa di Desa Margosari, Kecamatan Pengasih, bernama Margosari Mesin.

Sesuai namanya, Margosari Mesin berkutat dengan urusan alat tepat guna berupa mesin yang bisa membantu kerja warga-warga sekitara, utamanya para petani dan konsumen yang butuh alat-alat rumah tangga.

Mesin pencacah serabut kelapa menjadi salah satunya. Selama ini, mereka memproduksi mesin pencacah serabut kelapa manual yang berbahan bakar bensin. Sayangnya, mesin pencacah manual ini menimbulkan polusi udara karena hasil pembakaran berupa CO2 dan NOX. Di samping itu, ukuran mesin juga terlalu besar sehingga mengurangi kenyamanan dan efisiensi kerja.

Menanggapi permasalahan itu, sebanyak lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terdiri dari empat mahasiswa jurusan D3 Teknik Mesin, yakni Handoko Priono, Aditya Riska Nugroho, Dimas Setyawan, Muhammad Yusri Ilyas dan seorang mahasiswa Agroteknologi, Laili Maulidiyah, menjalin kerja sama dengan mitra bengkel Margosari Mesin.

Kerja sama ini berbentuk kegiatan Program Kegiatan Mahasiswa bidang Penerapan Teknologi (PKM-T) berjudul PESPA: Inovasi Pencacah Serabut Kelapa dengan Motor Listrik Bebas Polusi Sebagai Solusi Pembuatan Produk Rumah Tangga dan Pupuk Pertanian.

Ketua PKM-T, Handoko Priono, menjelaskan kegiatan ini dilakukan untuk memberikan inovasi mesin yang diproduksi Margosari Mesin demi meningkatkan kenyamanan dan efisiensi. Dengan adanya alat PESPA, efisiensi pengunaan mesin menjadi semakin besar dan mampu mengurangi beban biaya dibandingkan mesin serabut manual.

“Ada perbandingan besar yang mencolok antara penggunaan PESPA sebagai alat pencacah serabut kelapa dengan penggerak motor bensin. Untuk mesin yang digunakan Margosari menghasilkan pengeluaran sebanyak Rp2.864.160 per bulan sementara PESPA hanya Rp154.669 per bulan dari segi perawatan,” kata Handoko, Kamis (4/7/2019).

Dengan begitu, PESPA dapat memberikan profit yang lebih besar kepada pengguna, misalnya untuk mengembangkan usaha, potensi hak paten dan potensi pengabdian masyarakat. “Kegiatan PKM-T ini diharapkan dapat memberikan solusi dari masalah yang dialami bengkel Margosari Mesin, sehingga pelanggan merasa nyaman dan senang dengan hasilnya,” ucap Handoko.

Alat pencacah serabut kelapa sangat dibutuhkan bagi produsen yang memproduksi alat rumah tangga maupun untuk keperluan pertanian. Di samping itu, keberadan mesin ini membantu upaya pengurangan limbah kelapa.

“Serabut kelapa awalnya hanya menjadi limbah dan kurang dimanfaatkan oleh kebanyakan orang, padahal memiliki manfaat besar yang terkandung di dalam bagian dari pohon kelapa itu seperti halnya dijadikan sebagai pupuk,” ujarnya.