Jelang Iduladha, Ancaman Antraks Jadi Perhatian Utama

Ilustrasi penyembelihan dagung kurban. - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
07 Juli 2019 21:57 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA–Menjelang pelaksanaan Iduladha, Dinas Pertanian (Distan) DIY terus mengantisipasi menyebaran dugaan sapi terpapar antraks di Kabupaten Gunungkidul. Penanganan dan pengawasan lalu lintas ternak terus ditingkatkan.

Kepala Distan DIY, Sasongko, mengatakan jajarannya sudah mengisolasi sapi-sapi yang diduga suspect antraks. Hal itu untuk memastikan agar kasus kematian sapi mendadak dan spora zoonosi antraks di wilayah tersebut tidak meluas dari zona merah. "Kami sudah memberikan antibiotika atau vaksinasi kepada sapi-sapi yang diduga terpapar antraks. Semuanya diobati. Distan melarang ternak dari Dusun Grogol IV, Desa bejoharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, untuk dijual keluar daerah," kata Sasongko kepada Harian Jogja, Sabtu (6/7).

Menjelang Iduladha, katanya, Distan bersama instansi terkait akan meningkatkan pengawasan lalu lintas ternak. Semua ternak harus dilengkapi dengan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH). Berdasarkan data Distan DIY, ketersediaan ternak untuk kebutuhan Iduladha di Gunungkidul sampai hari ini berjumlah sebanyak 152.663 ekor sapi. Distan juga menyebar petugas untuk mengawasi ternak-ternak itu, termasuk meminta pemerintah kabupaten/kota di DIY untuk ikut memantau di lapak-lapak penjualan. "Kota Jogja sudah melakukan pengawasan. Lapak-lapak terus dipantau dan diperiksa setiap hari. Dengan begitu ternak-ternak bisa dipastikan aman," katanya.

Sasongko mengatakan, dugaan ternak yang terpapar antraks hanya berada di Dusun Grogol IV. Sampai saat ini belum ada laporan kasus yang sama terjadi di daerah lainnya. Pasalnya, sejak kasus tersebut mencuat, petugas terus mengecek ternak satu persatu baik di Pasar Hewan Siyono, Kecamatan Playen dan Pasar Hewan Semanu, Gunungkidul. "Kami berharap masyarakat tidak perlu khawatir mencari sapi di Gunungkidul. Masih banyak sapi yang bagus dan sehat," katanya.

Diakui Sasongko, wilayah Gunungkidul menjadi salah satu sentra mobilisasi hewan ternak dari luar DIY. Sebagai langkah antisipasi, ternak yang masuk wilayah DIY petugas meningkatkan pengawasan dan pemeriksaan ternak di daerah perbatasan. "Kami pastikan sapi-sapi lainnya di luar zona merah kondisinya bagus dan aman. Kami tidak ingin peternak rugi karena ada isu ini. Kami juga tidak ingin masyarakat dirugikan dengan masalah ini," katanya.

Sebelumnya, muncul kasus sapi mati mendadak di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo. Kematian sapi-sapi tersebut diperkirakan akibat penyakit antraks. Meski hanya sapi yang terpapar antraks, penyakit tersebut dinyatakan negatif bagi manusia. Distan terus mengawasi ternak-ternak tersebut sampai 120 hari ke depan sejak vaksinasi diberikan pada Mei lalu. Agar masyarakat tidak khawatir, Sasongko meminta agar pemotongan sapi dilakukan di RPH. Selain ada petugas RPH untuk memeriksa sapi yang akan dipotong, daging yang dihasilkan juga higienis.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembayun Setyaning Astutie, mengatakan sampai saat ini tidak ada kasus penularan antraks dari manusia ke manusia. Manusia bisa terpapar antraks dari hewan yang terpapar spora antraks. Gejala manusia terpapar bakteri antraks juga mengalami gejala umum seperti demam dan lainnya. Hanya saja, untuk memastikan apakah penyebabnya bakteri antraks harus dilakukan pemeriksaan.

"Masyarakat diharapkan tidak panik. Sebab penularan antraks tidak terjadi antara manusia dengan manusia. Tetapi dari hewan ke manusia. Manusia bisa terinfeksi kalau kontak dengan ternak yang diduga terkana antraks. Bisa saja sapi terinfeksi, tetapi belum tentu dengan manusia," katanya.