Lamuseto Ditawar Rp250 Juta dan Terima Jasa Kawin

Lamuseto bersama Suyanto pemenang juara satu kategori A jantan. - Harian Jogja/Uajng Hasanudin.
08 Juli 2019 13:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Sebanyak 150 ekor kambing peranakan etawa (PE) khas Kaligesing ikut dalam meramaikan Kontes Kambing Kaligesing Open Bupati Bantul Cup di kompleks Pasar Seni Gabusan (PSG), Sewon, Bantul, Sabtu (6/7/2019). Kontes dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Forum Komunikasi dan Relawan (FKOR) ke-1 tersebut sebagai ajang silaurahmi para peternak kambing dari berbagai daerah.

“Selain ajang silaturahmi antarpeternak kambing, kontes ini juga bisa mendongkrak harga jual kambing,” kata Eko Citraefa, salah satu panitia penyelenggara Kontes Kambing Kaligesing Open Bupati Bantul Cup, disela-sela kontes.

Eko mengatakan ada 150 peserta yang ikut kontes dari wilayah DIY, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Mereka datang sejak sehari sebelum kontes dimulai. Kontes memperebutkan piala bupati itu terdiri dari empat kriteria, yakni jantan kelas A hingga D dan betina kelas A hingga D. Tiap kategori dibedakan berdasarkan usia kambing, tinggi postur, bulu, hingga keserasian postur kambing.

Kambing-kambing yang ikut kontes tersebut dinilai dengan 12 parameter oleh juri yang terdiri dari peternak kambing, dokter hewan dari Dins Pertanian Pangan, dan Kelautan dan Perikanan (DP2KP) Bantul. Menurut Eko, kontes kambing tersebut tidak hanya sekedar lomba, namun lebih pada ajang silaturahmi. Banyak peternak yang saling berbagi pengalaman dalam memelihara kambing, khususnya kambing PE.

Di antara peserta kontes, kata dia, ada juga beberapa yang pernah juara di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten di daerahnya masing-masing. Pihaknya tetap membolehkan ikut selama peserta mengikuti kontes dengan kategori yang berbeda dari yang pernah diikuti sebelumnya, “Kecuali yang pernah mendapat Piala Presiden yang tidak boleh,” ujar Eko.

Sementara itu, Suyanto, 45, pemilik kambing Lamuseto mengaku bersyukur kambingnya dapat juara satu kategori A atau kategori paling bergengsi dalam kontes tersebut. Kambing Suyanto berusia 4,3 tahun dengan berat 135 kilogram dan tinggi sekitar 1,5 sentimeter dan bulu lebat. Kambing tersebut ia beri nama Lamuseto, “Lamuseto kepanjangan dari La karena ini keturunan Labas. Mus artinya enggak mustahil bisa seperti bapaknya dan Seto berarti weduse [kambingnya] milik pak Suyanto,” kata Suyanto.

Ia mengatakan Labas merupakan nama kambing yang pernah juara nasional pada 2017 lalu. Sementara Lamuseto salah satu keturunan Labas miliknya. Lamuseto pernah menjuarai Piala Bupati Purworejo dalam kontes di Purworejo. Suyanto berujar Lamuseto pernah ditawar Rp250 juta pada 2018 lalu, namun ia enggan melepasnya. “Kecuali penawaran sudah sampai Rp500 juta mungkin saya lepas,” kata Suyanto.

Suyanto membeli Lamuseto saat masih berusia delapan bulan dengan harga Rp10 juta. namun saat ini modal sudah kembali karena Lamuseto sering memenangi lomba. Selama ini Lamuseto masih sering ikut lomba di berbagai daerah dengan berbeda kategori. Selain ikut lomba Lamuseto juga menjadi andalan karena banyak peternak dari berbagai daerah yang menginginkan keturunan dari Lamuseto. Tidak heran hampir setiap sepekan sekali Lamuseto harus melayani permintaan kawin.

Suyanto tidak mematok harga untuk sekali kawin melainkan tergantung kerelaan yang meminta kawin dari Lamuseto. “Permintaan kawin saya batasi seminggu sekali karena harus menjaga kualitasnya. Kalau semakin sering akan berpengaruh juga terhadap penurunan kualitas,” ujar Suyanto.

Bapak dari seorang anak ini mengaku keturunan dari Maluseto banyak yang sudah menjadi juara. Bahkan dua keturunan Lamuseto sempat diikutkan dalam kontes di PSG Bantul. Saat ini peranaan dari Lamuseto ia jual rata-rata Rp2-22 juta juta, tergantung kondisi postur kambing.

Suyanto yang tinggal di Pandanrejo, Kaligesing sebenarnya sudah sejak usia sekolah SD ikut beternak kambing. Namun baru sejak 2003 ternak kambing secara mandiri. Awalny ia hanya ternak kambing untuk dijual dagingnya ke pasar hewan. Namun kini ia juga mengembangkan kambing untuk kontes karena harganya lebih tinggi. Jika sudah tidak laku dalam kontes, kambing masih bisa dijual dagingnya. Ia mengatakan tidak ada rahasia khusus dalam merawat kambing untuk kontes. seperti biasa ia hanya memberi makan rumput sehari dua kali, cairan kombor atau ampas tahu dan susu kambing.