Bedah Buku AR Fachruddin Kisahkan Kepemimpinan Islam yang Menggembirakan

AR Fachruddin/http:/ - muhammadiyah.or.id
15 Juli 2019 21:42 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Melihat kondisi bangsa saat ini, khususnya hiruk pikuk kehidupan politik dan sosial, rasanya menghadirkan kembali sosok AR Fachruddin seakan menjadi oase. Sebuah bedah buku mengenai tokoh Islam  AR Fachruddin digelar  belum lama ini.

"Pola kehidupan Pak AR yang zuhud, sederhana, dan low profile perlu kita teladani. Gaya kepemimpinan serta komunikasi Pak AR yang genuine dan apa adanya, pun sangat dibutuhkan saat ini," demikian disampaikan Paryanto, Peneliti Jusuf Kalla School of Government Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam diskusi buku berjudul “Pak AR yang Zuhud Memimpin Umat Dengan Islam Yang Menggembirakan”, pada Jumat (12/7/2019) lalu di Sekretariat Yayasan AR Baswedan, seperti disampaikan melalui rilis, Senin (15/7/2019).

Hadir pula sebagai pembicara yakni Mochammad Faried Cahyono Penulis buku.

“Pak AR itu sosok yang diterima oleh semua kalangan, baik oleh kalangan atas, bawah, atau bahkan kelompok radikal sekalipun,” ujar Paryanto.

Diterimanya Pak AR oleh berbagai kalangan ini, karena karakter yang melekat pada kepribadian Pak AR yang selalu menjaga sikap wara’ dan zuhud dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap zuhud dan pilihan hidup dengan penuh kesederhanaan yang genuine juga tergambar dalam kebiasaan Pak AR yang tidak mau memanfaatkan posisinya sebagai Ketua PP Muhammadiyah untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.

“Bahkan sebaliknya, justru beberapa fasilitas yang diberikan negara kepadanya justru diserahkan kepada Muhammadiyah,” ujar Paryanto.

Senada dengan Paryanto, Faried Cahyono pun menceritakan betapa Pak AR memiliki sensitifitas tinggi kepada rakyat kecil. Pak AR pernah bercerita kepada muridnya, satu ketika Pak AR berniat untuk membeli durian. Namun ketika naik becak menuju ke pasar, si tukang becak berkeluh kesah karena harga durian yang sangat mahal dan tak mampu dibeli olehnya yang hidup pas-pasan. Mendengar hal tersebut, saat Pak AR sampai ke pasar, ia langsung pulang dan tak jadi membeli durian.

“Setelah menceritakan kisah ini, Pak AR berpesan kalian besok apabila jadi pemimpin pahamilah perasaan rakyat,” ujar Faried.

Diskusi buku yang digelar Yayasan AR Baswedan dilaksanakan setiap Jumat, membedah buku-buku sains dan pendidikan, ekonomi, politik, tokoh serta keagamaan. Khamim Zarkasih Putro, Ketua Dewan Pembina Yayasan AR Baswedan mengatakan kita perlu menggiatkan kajian-kajian agar kehidupan bangsa dipenuhi dengan gairah intelektual.

“Ilmu Pengetahuan merupakan kunci untuk membangun bangsa dan negara yang kuat, oleh sebab itu Yayasan AR Baswedan berkomitmen untuk berpartisipasi dalam mendorong pemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan, ”tandas Khamim.