Tak Kunjung Turun, Ini Penyebab Harga Cabai di Jogja Tinggi

Ilustrasi cabai - Reuters
27 Juli 2019 21:27 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Harga cabai hingga kini masih tinggi kendati sudah naik lebih dari sebulan. Penjualan cabai dari petani ke luar daerah serta musim kemarau yang panjang diduga memicu tingginya harga cabai.

Salah satu pedagang di Pasar Beringharjo, Jogja, Ngarti, mengungkapkan saat ini harga cabai mencapai kisaran Rp60.000 per kilogram (kg). “Mahal sekali saat ini semua jenis cabai, sudah lama, sebulan lebih mungkin [kenaikan harga],” kata Ngarti, Sabtu (27/7/2019).

Ngarti mengatakan untuk jenis cabai rawit merah harganya mencapai Rp65.000/kg. Harga rawit hijau Rp60.000/kg, cabai keriting merah Rp60.000/kg, serta cabai keriting hijau Rp40.000/kg.

Ngarti biasanya mendapat pasokan cabai dari Magelang, Jawa Tengah. Namun diduga karena saat ini sedang musim kering, pasokan menjadi tersendat, dan harga terkerek naik.

“Ada yang pada dijual ke Jakarta juga dari petani. Di sana kan lebih mahal. Mungkin nanti kalau sudah musim hujan mulai turun lagi harganya. Biasanya begitu,” ujarnya.

Pada musim penghujan biasanya harga cabai di kisaran Rp30.000/kg, bahkan pernah menyentuh Rp10.000/kg. Akibat kenaikan harga yang cukup signifikan, penjualan komoditas tersebut menurun. Konsumen kebanyakan enggan membeli cabai dalam jumlah banyak.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Yanto Aprianto, membenarkan harga cabai di pasaran saat ini masih tinggi. “Masih tinggi pantauan Rp57.000 per kilogram sampai Rp59.000 per kilogram,” kata Yanto Aprianto.

Yanto mengatakan penyebab utama melambungnya harga cabai di wilayah DIY dikarenakan permintaan dari luar daerah yang tinggi, sementara harganya lebih menjanjikan.

Faktor musim kemarau kata dia tidak begitu berpengaruh pada kenaikan harga pangan tersebut. Pemerintah kata dia berupaya menstabilkan harga antara lain dengan cara mengedukasi masyarakat agar beralih ke cabai olahan, alias bukan cabai segar. Belum banyaknya masyarakat beralih ke cabai olahan menurutnya turut mendorong kenaikan harga.