Produksi Budidaya Ikan di Kulonprogo Cenderung Turun di Triwulan Ketiga

Kepala DKP Kulonprogo, Sudarna menunjukkan kolam bundar berisi ikan di Kantor DKP Kulonprogo, Kecamatan Pengasih, Jumat (2/8/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara.
03 Agustus 2019 09:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO— Produksi ikan budidaya di Kulonprogo mengalami penurunan pada triwulan ketiga 2019. Hal itu berdasarkan realisasi produksi per triwulan DKP Kulonprogo 2018. Adapun realisasi produksi pada tahun lalu di triwulan I mencapai 3.851 ton. Kemudian pada triwulan II turun jadi 3.577 ton. Penurunan cukup signifikan terjadi di triwulan III yang hanya 1.323 ton dan kembali naik di triwulan ke IV yakni 3.301 ton.

Kepala Bidang Pembudidayaan Ikan DKP Kulonprogo, Leo Handaka, mengatakan setiap tahun, triwulan ke III meliputi Juli, Agustus dan September, memang selalu yang paling rendah perihal jumlah produksi budidaya ikan. Penyebabnya yaitu faktor musim kemarau.

Berbeda dengan triwulan I (Januari, Februari, Maret), triwulan II (April, Mei, Juni) dan triwulan IV (Oktober, November, Desember), yang masih turun hujan meski intensitasnya tidak terlalu banyak, pada triwulan III malah sebaliknya. Di triwulan ini produksi ikan menurun karena pembudidaya dihadapkan dengan minimnya pasokan air untuk memenuhi kebutuhan kolam ikan.

"Jadi polanya itu sama setiap tahun, di triwulan pertama produksinya bisa sampai 300 persen dari total produksi satu tahun, kemudian triwulan dua turun jadi 55 persen, nanti di triwulan ke tiga terendah, hanya 15 persen, lalu naik lagi di triwulan terakhir," kata Leo di kantornya, Jumat (2/8/2019).

Di triwulan ini juga, ikan mudah terserang penyakit. Sebab, kemarau membikin perbedaan suhu yang signifikan, saat siang panas dan malam dingin, sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh ikan. Jika pembudidaya tak segera melakukan antisipasi, bukan tidak mungkin, bakal banyak ikan yang mati. 

"Biasanya kalau ada perubahan dua atau tiga drajat, menurunkan nafsu makan ikan, secara tidak langsung, daya tahan tubuhnya jadi lemah, kemudian mudah dimasuki parasit dan bakteri," paparnya.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi banyaknya ikan yang mati, pembudidaya diimbau membatasi jumlah benih yang ditebar dan mengatur jarak antar benih agar jangan terlalu dekat. Penggunaan kolam bundar dan pemasangan saluran pembuangan endapan di kolam atau biasa disebut sistem central drain, saat musim kemarau juga lebih diutamakan.

Kepala DKP Kulonprogo, Sudarna mengatakan dua cara tersebut menurutnya cukup ampuh untuk mengatasi penurunan produksi selama triwulan III. Kolam bundar misalnya, mampu mempertahankan volume air dalam kolam karena dasar kolam dilapisi terpal sehingga air tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Dengan begini, air tidak menyerap dan volume terjaga.

"Ini sangat cocok ketika digunakan saat musim kemarau atau di tempat-tempat yang sulit air, untuk Kulonprogo sendiri memang belum banyak kelompok budidaya ikan yang menerapkan ini," ujarnya.