900 Ton Gandum Sudah Dikirim ke Palestina, Laju Peduli Ungkap Sumbernya
Laju Peduli telah mengirim lebih dari 900 ton gandum ke Palestina selama delapan tahun. Bantuan dihimpun dari sedekah masyarakat.
Ilustrasi. /Solopos-Nicolous Irawan
Harianjogja.com, JOGJA- Kepadatan volume kendaraan bermotor terutama di wilayah Kota Jogja tidak bisa diimbangi dengan penambahan ruas jalan baru. Untuk mengatasi arus kendaraan yang terus bertambah, Dinas Perhubungan (Dishub) hanya bisa melakukan rekayasa lalu lintas.
Kepala Dishub DIY Sigit Sapto Raharjo mengatakan tingginya volume kendaraan di kawasan Jogja tidak hanya disebabkan oleh pertumbuhan kendaraan di DIY saja. Penambahan volume kendaraan juga terjadi akibat migrasi masyarakat dari luar daerah yang bekerja di wilayah DIY.
Diakuinya, jalanan di DIY juga menjadi pintu perlintasan baik kendaraan dari Purworejo yang akan ke Solo, maupun kendaraan dari Magelang ke Jogja.
"Termasuk kendaraan wisatawan. Ini karena status DIY sebagai kawasan wisata sehingga berdampak pada meningkatnya volume kendaraan," katanya kepada Harianjogja.com.
Di sisi lain, katanya, pertumbuhan volume kendaraan bermotor di wilayah DIY juga tidak bisa dihindari. Setiap tahun, jumlah kendaraan baru terus bertambah. Di Kota Jogja saja, kata Sigit, rata-rata setiap tahun ada penambahan mobil baru sekitar 4% dan sepeda motor baru sekitar 6%. Jumlah tersebut belum termasuk data dari empat kabupaten lainnya di DIY.
"Jumlah kendaraan bermotor saat ini di Jogja sekitar 1,8 juta unit. Pertahun bertambah sekitar 4 persen untuk mobil dan enam persen untuk motor. Itu baru di Kota," katanya.
Dishub hanya bisa melakukan rekayasa lalu lintas untuk merespon pertumbuhan kendaraan bermotor di Kota Jogja. Sebab untuk menambah jalan hal itu dinilai sangat mustahil melihat kondisi Kota Jogja.
"Yang bisa dilakukan selama ini hanya dengan rekayasa lalu lintas. Beberapa ruas jalan sudah direkayasa, mungkin ke depan juga ada rekayasa jalan lainnya," katanya.
Sebelumnya, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah DIY, Bambang Wisnu Handoyo mengatakan pertumbuhan kendaraan bermotor menjadi salah satu potensi kenaikan pendapatan asli daerah (PAD). Setiap tahun, katanya, rata-rata ada sekitar 120.000 unit kendaraan baru yang dibeli di DIY.
Hanya saja, dia tidak mengetahui apakah pembelian unit kendaraan baru tersebut dilakukan secara cash atau kredit. Dia juga tidak memahami dengan pertumbuhan kendaraan bermotor masyarakat DIY benar-benar sugih semua atau tidak.
"[Pajak kendaraan] Itu salah satu sumbangan terbesar [PAD]. Semakin bertambah, otomatis [penghasilan] pajaknya nambah," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Laju Peduli telah mengirim lebih dari 900 ton gandum ke Palestina selama delapan tahun. Bantuan dihimpun dari sedekah masyarakat.
Kasus ISPA di Bantul mencapai 11.883 kasus pada April 2026 sebelum turun pada Juli dan Agustus, menurut data Dinkes Bantul.
Ledakan tabung oksigen di PT Sinergi Berkat Gasindo, Kelapa Gading, menewaskan satu orang dan melukai seorang lainnya.
Kemensos menguji coba Perlinsos digital hingga akhir 2026 untuk memutakhirkan data bansos dan menargetkan seluruh daerah mengaksesnya pada 2027.
Pemerintah menargetkan investasi lebih dari Rp13.000 triliun dalam lima tahun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen pada 2029.
Baznas Kulonprogo menyalurkan Rp440 juta untuk memperbaiki rumah 22 keluarga di Galur, Panjatan, dan Wates melalui program RLHB.