Akulturasi Wujud Kerukunan

Para muda mudi Paguyuban Hakka Jogja merayakan Festival Ronde dengan membuat ronde bersama-sama. - Ist
15 Agustus 2019 08:22 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, PURWOREJO—Dalam hidup bermasyarakat seseorang wajib menjaga kerukunan. Prinsip itu pula yang dipegang warga Tionghoa di DIY. 

Ketua I JCACC Jimmy Sutanto mengungkapkan ketika hidup bermasyarakat seseorang harus saling membantu, tolong-menolong, dan menjaga keharmonisan. Hal itu sudah dilakukan sejah zaman nenek moyang.  "Buktinya, terjadi akulturasi. Akulturasi itu kan wujud kerukunan antarmanusia. Kalau enggak rukun dan ada penolakan mana bisa ada akulturasi budaya," kata dia, Rabu (14/8).

Wujud akulturasi tersebut seperti adanya serapan bahasa dan makanan. Jimmy mengakui banyak bahasa asal Tionghoa yang digunakan dalam bahasa Indonesia. "Selain itu, banyak juga makanan yang berakulturasi dan jadi makanan sini juga. Kami senang dengan akulturasi ini karena ini berarti kerukunan," kata dia.

Dilansir dari Tionghoa.info banyak sekali kata-kata dari bahasa Tionghoa yang sudah akrab dipakai dalam keseharian, yang mungkin tidak disadari sebenarnya dari serapan bahasa Tionghoa. Namun, kata-kata ini tidaklah berasal dari bahasa Mandarin. Tetapi justru dari bahasa (dialek) Hokkian dan Kanton.

Hal ini dikarenakan sebagian besar warga Tionghoa yang tinggal di Indonesia, merupakan penutur dialek bahasa tersebut (berasal dari wilayah Fujian, Guangdong, Tenggara Tiongkok). Karena itulah, pengaruh kata-kata tersebut menjadi kuat, dan diterima sebagai istilah yang dipahami oleh masyarakat lokal.

Bahasa Tionghoa merupakan salah satu pendonor kosa kata bahasa Indonesia. Total ada 10 pendonor terbesar dalam bahasa Indonesia, yakni Belanda, Jepang, Inggris, Arab, Sansekerta/Jawa Kuno, Tionghoa, Portugis, Tamil, Parsi/Persia, dan Hindi.

Dalam prosesnya, bahasa asli Tionghoa kerap mengalami perubahan dalam proses penyerapan istilah dalam penggunaan keseharian, atau ke bahasa formal masyarakat Indonesia. Misalnya perubahan fonem (bunyi), yang juga mengakibatkan perubahan penulisan dan makna.

Sapaan untuk orang Tionghoa yang khas terkadang ditiru oleh masyarakat lokal, yang biasanya mereka gunakan untuk menyapa orang yang terlihat seperti keturunan Tionghoa. Alhasil, banyak yang menyapa perempuan dengan sebutan cici, encik, cik, sementara laki-laki dengan sebutan koko, engkoh, koh; terutama di daerah Pecinan.

Koko dan cici adalah sapaan khas untuk kakak laki-laki dan perempuan. Ada yang unik terkait dengan kata koko ini. Menjelang bulan Ramadan, mereka yang muslim pasti akrab dengan kata baju koko. Istilah ini merupakan asimilasi budaya Tionghoa.

Untuk makanan, ada bakpao, cakwe, bakso, mi, kwetiau, bihun, bakmi. Istilah dalam dunia keuangan juga banyak menggunakan bahasa Tionghoa. Cepek (seratus), gopek (lima ratus), goceng (lima ribu), adalah beberapa kata serapan dari bahasa Hokkian yang sering dipakai saat transaksi jual beli. Karena angka-angka ini sering muncul dalam harga, maka kita akrab mendengarnya.