MOCOSIK 2019: Menonton Konser Musik, Mengakrabi Buku

Musisi Sujiwo Tejo tampil bersama Sastra Warna Band dan Paduan Suara Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan membawakan lagu-lagu disertai pembacaan puisi di Mocosik 2019, Gedung Jogja Expo Center (JEC), Banguntapan, Bantul, Sabtu (24/8/2019). - Harian Jogja/Desi Suryanto
25 Agustus 2019 09:57 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Mocosik 2019 layaknya surga dunia bagi mahasiswa pecinta buku untuk memborong buku-buku yang selama ini tak terjangkau kantong, kini didiskon. Bagi mereka tak hobi baca buku, acara ini ini memaksa mereka untuk mengakrabi buku melalui konser musik yang disematkan di dalamnya. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.

Di tengah ratusan orang yang khidmat membolak-balik buku bersampul dan membaca sinopsis bagian belakang, Religya Prasanti, 19, berjalan santai sambil melirik ke kanan dan ke kiri tempat di mana meja penampung buku-buku berada.

Mahasiswi asal Surabaya itu mengenakan t-shirt kuning sepanjang pinggang dan celana jin hitam penuh aksesori berbentuk rantai. Rambutnya yang disemir cokelat muda membuat penampilannya menonjol di antara para pemburu buku lainnya. Dia mengaku memang mempersiapkan penampilannya untuk melihat konser.

"Aku ke sini lebih ke nonton konser aja sih, baru kemarin saya datang dari Surabaya. Ke sini nungguin Langit Sore manggung. Sebenarnya enggak suka baca buku tapi kan tiketnya harus pakai buku [wajib belanja buku Rp75.000 dan buku hasil belanja dianggap sebagai tiket masuk]. Enggak apa-apa, sekalian mengenal buku," kata Egy.

Suasana perburuan buku itu nampak asing bagi Egy. Apalagi ini pertama kalinya dia mengunjungi Mocosik 2019, sebuah pameran buku sekaligus konser bertabur musisi terkenal. Meskipun begitu jari-jari tangan Egy yang dihiasi kuku berkuteks hitam mulai memilah-milah buku bertema motivasi hidup. Tepatnya di rak buku area diskon 90%. Saat menemukan buku tipis bersampul kuning dengan judul Mencari Cara Hidup dengan Mindset Positif, seulas senyum tergambar di wajahnya.

"Nah, ini aja nih Rp15.000 pas buat ngegenepin harga novel yang tadi aku ambil. Tadi kan aku beli novel juga," tangan kanan Egy sudah memegang novel karya Okky Madasari berjudul Yang Bertahan dan Binasa Perlahan.

Di bagian belakang novel bersampul hijau kekuningan itu tertulis sinopsis yang menarik hati Egy. Di sana tertulis novel itu berkisah tentang serangkaian kisah tentang pertarungan dan daya tahan manusia. Cerita-cerita dalam novel itu hanya satu upaya kecil untuk menghayati makna kita sebagai manusia. Egy mendadak merasa relevan dengan apa yang coba disampaikan novel itu.

Egy mengaku tak pernah membaca novel sebelumnya. Jadi novel seharga Rp55.000 itu akan menjadi buku pertama yang ada di kamarnya. Bacaan paling panjang yang menarik hatinya selama ini adalah artikel tentang artis di portal berita online.

"Ya buku ini bakal aku jadikan pengalaman membaca buku sampai selesai. Semoga saja ya, aku bisa menyelesaikan dua buku ini, lihat nanti betah apa enggak," kata Egy sambil tertawa. Egy kemudian melenggang pergi ke kasir untuk menukar nota pembelian buku dengan sebuah tiket masuk konser. Di dekat antrean area diskon 90%, antrean tampak semakin mengular, di dekat sana Efi Muryani, 23, tergopoh-gopoh berusaha mengangkat satu tas kain berwarna hitam yang berisi buku-buku belanjaannya.

Mahasiswi Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) asal Temanggung ini kemudian memperlihatkan isi tasnya. Ada sembilan buku setebal batu bata yang dibelinya dari Mocosik 2019. Di antara buku-buku itu terdapat secarik kertas kecil berisi daftar jenis buku bacaan yang ingin dibelinya di Mocosik 2019.
"Ini ada buku politik, agama islam, dan biografi juga. Ini totalnya cuma Rp150.000 tapi sudah dapat sembilan. Kalau di toko buku biasa bisa sampai Rp800.000 nih bahkan sejuta," kata Efi sambil memamerkan sampul buku-bukunya secara bergantian, sambil sesekali membenahi letak kacamata yang bertengger di hidungnya.

Bagi Efi, Mocosik 2019 adalah surga bagi mahasiswi rantau pecinta buku sepertinya. Banyak buku yang sudah lama dia inginkan, namun harganya dirasa terlalu mahal. Sebulan lalu Efi sempat pergi ke pameran buku, Big Bad Wolf (BBW), ajang penjualan buku impor yang tahun ini diselenggarakan di Kota Jogja. Namun apa daya, dia hanya bisa memperhatikan deretan buku di sana dan pulang dengan tangan kosong. Isi kantongnya tidak muat untuk memborong buku bacaan kesukaannya.

"Makanya aku balas dendam di Mocosik 2019, borong sebanyaknya buat koleksi. Kapan lagi murah? Sekalian, saya jarang nonton konser juga, meskipun hari ini [kemarin] enggak ada yang kenal, nonton aja. Kan sayang kalau kesempatan enggak dipakai," kata Efi.

Kali Ketiga

Pameran buku dan pergelaran pentas musik Mocosik Festival kembali digelar untuk ketiga kalinya di Jogja Expo Center (JEC). Mengusung tema Buku, Musik, Kamu, acara garapan Rajawali Indonesia ini dimulai Jumat (23/8) hingga Minggu (26/8/10`9).

Jika tahun lalu seakan buku hanya menjadi syarat menonton konser, kali ini panitia lebih mengantisipasinya. Caranya konser dijadikan jembatan untuk membawa generasi milenial dan generasi Z masuk ke dalam dunia buku.  Direktur Program Mocosik 2019 Irwan Bajang mengatakan tahun ini ada beberapa pemusik yang mengisi kelas khusus, misalnya kelas penulisan lirik lagu oleh Yura Yunita dan Kill The DJ. "Ada konser dan workshop puisi cinta bersama Agus Noor juga," jelas Irwan.

Irwan mengatakan saat praacara pihaknya membuat survei di media sosial tentang buku apa saja yang diminati masyarakat, khususnya kaum milenial. “Ada novel, sosial-politik, humaniora, buku anak, bahkan buku masak, kini semuanya ada,” kata Irwan.
Tahun ini Mocosik melibatkan lebih dari 120 penerbit dari seluruh Indonesia, dengan diskon buku hingga 90%. Selain itu, ada pasar buku murah yang harganya sekitar Rp 10.000.

Irwan mengatakan tahun ini lebih spesial karena jumlah narasumber yang naik drastis, yaitu lebih dari 60 orang. Dari siang sampai malam, kata Irwan, mahasiswa dan mahasiswi di Jogja sibuk menyasar agenda padat berupa talkshow dan workshop bersama penulis, konten kreator, dan musisi. Sembari menunggu, buku yang mereka beli pun dibaca untuk mengisi waktu.