GKR Mangkubumi Pimpin Lampah Budaya Mubeng Beteng

Ribuan orang mengikuti tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sabtu (31/8) hingga Minggu (1/9) dini hari. - Istimewa/Dokumen Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
01 September 2019 23:02 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Lampah Budaya Mubeng Beteng, Sabtu (31/8) hingga Minggu (1/9) dini hari. Selama prosesi untuk memeringati tahun baru Jawa, 1 Sura Tahun Wawu 1953 ini, ribuan peserta berjalan tanpa berbicara sepatah katapun atau tapa bisu.

Prosesi Lampah Budaya Mubeng Beteng diawali dengan Macapatan yang digelar di Bangsal Pancaniti, pelataran Kamandhungan Lor Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mulai pukul 21.00 WIB. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KMT Projosuwasono.

Menjelang pemberangkatan, dilakukan penyerahan dwaja (bendera/umbul-umbul) yang terdiri dari bendera Merah Putih, bendera Gula Klapa (bendera Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat), dan klebet Budi Wadu Praja milik Pemda DIY. Disertakan juga lima bendera yang merepresentasikan kabupaten dan kota di DIY yakni klebet Bangun Tolak (Kota Jogja), Mega Ngampak (Sleman), Podhang Ngisep Sari (Gunungkidul), Pandhan Binetot (Bantul), dan Pareanom (Kulonprogo).

Tepat pukul 24.00 WIB, rombongan Lampah Budaya Mubeng Beteng diberangkatkan. Rombongan dilepas oleh GKR Mangkubumi ditandai dengan bunyi lonceng Kamandhungan Lor sebanyak 12 kali. Saat melepas rombongan, GKR Mangkubumi didampingi putri dan mantu dalem seperti GKR Condrokirono, GKR Maduretno, KPH Purbodiningrat, dan KPH Notonegoro.

Rombongan abdi dalem bergerak pertama kali. Mereka mengenakan pakaian pranakan tanpa keris dan alas kaki. Masyarakat yang sejak sore menunggu mengikuti di belakang para abdi dalem. Mereka semuanya berjalan kaki tanpa bicara dan terus berdoa.

Rombongan kemudian menyusuri pelataran Kamandhungan Lor (Keben) menuju Ngabean, Pojok Beteng Lor Kulon, Pojok Beteng Kulon, Jl. MT Haryono (lewat selatan Plengkung Gading), Pojok Beteng Wetan, Jl.Brigjen Katamso, Jl. Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara, kemudian kembali lagi ke Kamandhungan Lor.

Jarak perjalanan mengelilingi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut sekitar 1,5 jam. Mereka berjalan kaki sekitar lima kilometer. Mubeng beteng sendiri merupakan lampah budaya. Sebuah sarana bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi atas apa yang terjadi di tahun yang telah berlangsung sembari memohon kepada Yang Maha Kuasa agar tahun yang akan datang lebih baik dari pada tahun sebelumnya.

Selain Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, kegiatan yang sama juga digelar di Kadipaten Pura Pakualaman. Bedanya, rombongan hanya mengelilingi kawasan Pakualaman.

Tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Nasional Tak Benda yang dimiliki Jogja sejak 2015. "Saya ikut serta dalam kegiatan ini [Lampah Budaya Mubeng Beteng] tidak hanya sekadar melestarikan kebudayaan, tetapi menjadi sarana untuk merenung dan introspeksi atas berbagai hal yang telah terjadi selama setahun terakhir," kata Herutomo, warga Penambahan, Kraton, Sabtu.

Dia mengatakan, ada pelajaran adiluhung dalam tradisi ini. Aksi diam, misalnya, salah satunya untuk mengingatkan agar manusia tidak banyak bicara. "Ada pepatah di mana diam itu emas. Bukan tidak boleh berbicara. Berbicara ada kalanya. Berbicara saat bermanfaat itu lebih baik," katanya.