Lewat Seminar Ilmu Kebumian, Akademisi Ingin Jalin Sinergi dengan Masyarakat

Dekan Fakultas Teknik UGM Prof. Nizam menumbuk lesung sebagai seremonial pembukaan secara resmi Seminar Nasional Kebumian ke-12: Peran Ilmu Kebumian dalam Pengembangan Geowisata, Geokonservasi, Geoheritage & Memeringati 35 Tahun Stasiun Lapangan Geologi Prof.Soeroso Notohadiprawiro, Bayat, Klaten, di Hotel Alana, Kamis (5/9).(Harian Jogja - Uli Febriarni)
05 September 2019 21:47 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Sinergi antara masyarakat dan akademisi ilmu kebumian penting dilakukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang hidup di tengah kawasan dengan potensi geowisata, geokonservasi, dan geoheritage.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Geoweek, Nugroho Imam Setiawan, saat memberi sambutan pembukaan Seminar Nasional Kebumian ke-12: Peran Ilmu Kebumian dalam Pengembangan Geowisata, Geokonservasi, Geoheritage & Memeringati 35 Tahun Stasiun Lapangan Geologi Prof. Soeroso Notohadiprawiro, Bayat, Klaten, di Hotel Alana, Kamis (5/9).

"Salah satunya dengan mewujudkan [Stasiun] Bayat sebagai sumber daya warisan geologi, geowisata dan geokonservasi," kata dia, Kamis.

Panitia berharap semoga seminar dan konferensi ini bisa menjadi ruang bersama untuk berdialog, diskusi dan fokus membahas tema yang dibangun. Total, ada 429 abstrak yang masuk ke meja panitia dan setelah diseleksi, diputuskan sebanyak 102 makalah akan dipresentasikan dalam momen yang berlangsung hingga Jumat (6/9) itu.

Ketua Departemen Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Heru Hendrayana mengatakan usia 35 tahun adalah sebuah usia yang sangat enerjik, termasuk bagi Stasiun Bayat.

"Kami harap Stasiun Bayat terus berkembang dan terus menjadi pusat studi geologi terbaik di Indonesia," kata dia.

Dekan Fakultas Teknik UGM Prof. Nizam mengungkapkan tema yang diangkat dalam seminar membuktikan Geologi bukan hanya soal eksplorasi. Melainkan juga konservasi dan mengandung upaya perhatian pada kegiatan ekonomi masyarakat sekitar, lewat geowisata, konservasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam konteks kali ini, Stasiun Bayat sudah dikenal di Indonesia dan di internasional. Potensi itu luar biasa dan saat ini tinggal diperlukan sinergi antara pariwisata, konservasi, pengetahuan ilmu dan pemahaman segenap pihak perihal planet Bumi.

Dalam seminar tersebut, Guru Besar Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM Prof. Subagyo Pramumijoyo menjadi pembicara kunci, membawakan materi bertema yang sama dengan tema kegiatan.