Bantul Berupaya Pindahkan Warga yang Tinggal di Zona Merah

Kondisi rumah Suryanto yang jebol terkena material longsor. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
10 September 2019 09:47 WIB Kiki Luqmanul Hakim (ST 16) Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL – Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, warga yang berada di daerah rawan longsor atau biasa disebut zona merah enggan direlokasi. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Sekertaris BPBD Bantul Muhammad Baried.

Katanya, di Bantul sendiri ada sekitar 2000 Kartu Keluarga (KK) yang menempati zona merah. Namun kebanyakan dari mereka tidak rela meninggalkan tempat tinggalnya dan juga seluruh harta yang ada di tempat lama.

“Kebanyakan dari mereka itu tidak mau karena masih tidak rela meninggalkan hartanya seperti rumah, tanah dan juga mata pencaharian mereka. Kebanyakan yang ada di zona merah berprofesi sebagai petani, dan ketika mereka direlokasi mereka tidak mau jauh-jauh dari lahannya,” kata Baried ketika dihubungi Harianjogja.com, pada Senin (9/10/2019).

Selain itu beberapa warga yang di zona merah masih merasa nyaman akibat belum pernah terjadi bencana di daerah yang mereka tempati. “Ada juga yang tidak mau lantaran masih merasa aman dan nyaman karena di situ belum pernah terjadi bencana. Tapi kami akan terus memberikan sosialisasi agar mereka paham,” ujarnya.

Ia juga mengatakan perdaerah zona merah di Bantul ditinggali sekitar 100 hingga 150 KK, oleh sebab itu pihak BPBD Bantul akan merelokasi secara bertahap warga yang menempati zona merah. “KK yang paling banyak itu ada di daerah Imogiri sama Dlingo, daerah situ sangat bahaya kalau musim hujan, maka dari itu kami lakukan relokasi,” jelas Baried.

“Bertahap itu dalam artian tahun ini 40 rumah dulu lalu tahun depan 40 rumah. Untuk wilayah relokasi sendiri kami sudah bekerja sama dengan pemerintah-pemerintah desa untuk menyediakan lahan yang aman dari bahaya bencana,” kata Baried.

Sejauh ini prosesnya sendiri masih berada dalam tahap pematangan lahan di daerah Imogiri. Sedang sumber biaya untuk relokasi berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Bantul.