Dituduh Ponpes Sesat oleh FJI, Ini Jawaban Tegas Majelis Taklim Al Khowas

Pengajar majelis taklim Al Khowas Muhammad Hafiun (kanan) berfoto bersama dengan salah satu anaknya di depan rumahnya yang ada di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Selasa (10/9/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
10 September 2019 19:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pengajar majelis taklim Al Khowas Muhammad Hafiun menegaskan jika majelis taklim yang berlokasi di di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman bukan merupakan sebuah pondok pesantren seperti yang sudah diberitakan sebelumnya.

Majelis taklim tersebut sebelumnya digeruduk oleh Front Jihad Islam (FJI) karena dianggap sebagai ponpes yang mengajarkan kesesatan.

"Saya dari dulu mengatakan jika majelis taklim ini bukan ponpes, kalau ponpes itu harus ada bangunan yang sempurna, ada silabus dan kurikulumnya, pendanaannya juga harus jelas dan harus terdaftar di Kemenag. Ini adalah sebuah majelis zikir dan mujahadah, tapi memang masyarakat selama ini mengenal Al Khowas sebagai pondok, dan itu juga sah-sah saja kami juga tidak melarangnya, majelis zikir tidak perlu izin," kata Hafiun kepada Harianjogja.com saat jumpa pers yang dilakukan di halaman rumahnya yang disaksikan beberapa pihak seperti petugas KUA, instansi Pemkab Sleman, Banser, hingga aparat TNI-POLRI, Selasa (10/9/2019).

Ia menyebutkan jika majelis taklim memang menampung orang-orang yang mengaji dan rumahnya memang jaraknya lumayan jauh, seperti dari Wonosari, Gunungkidul. "Bagi mereka yang rumahnya jauh kami memang punya tempat untuk menampung mereka untuk tidur sementara sampai salat subuh kemudian pulang ke rumahnya masing-masing," ujarnya.

Tudingan di majelis taklimnya yang melakukan tindak pelecehan seksual bahkan meminum minuman keras hingga mabuk seperti tuduhan FJI ditegaskannya tidak benar adanya.

"Mana ada pelecehan seksual, di kompleks majelis taklim juga tidak ada satu pun perempuan di dalamnya, tidak ada santri perempuan di sini, kalaupun ada itu istri-istri para jemaah yang sedang masak bareng untuk makan ketika ada pengajian atau acara," kata Hafiun.