Kenangan Cak Nun tentang Almarhum Muhammad Hadiwiyono, Pionir Pengajian Kiai Kanjeng yang Makamnya Dibongkar

Cak Nun. - Ist/ Youtube
11 September 2019 17:17 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun dikabarkan dekat dengan almarhum Muhammad Hadiwiyono, warga asal Jember, Jawa Timur yang makamnya di kompleks Majelis Taklim Al Khowas Sleman dibongkar atas desakan Front Jihad Islam (FJI) pada Minggu (8/9/2019) lalu.

Cak Nun bahkan mengenang Hadiwiyono lewat tulisan berujudul Anakku Yono, Sarang Angin Burdah di situs Caknun.com.

Cak Nun bahkan menyebut almarhum Muhamad Hadiwiyono sebagai anaknya, alumnus Patangpuluhan (selama ini dikenal sebagai markas Cak Nun) era 1980-an. Namun almarhum diam-diam "bertapa" selama tujuh tahun di sebuah padepokan di timur utara Jogja.

Kuat diduga padepokan yang dimaksud adalah Majelis Taklim Al Khowas di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman tempat yang sering almarhum datangi hingga ia meninggal dunia. Semasa hidupnya almarhum aktif mengaji dan solawat di padepokan itu.

"Di komunitas kecil penuh kemesraan dan kesederhanaan itu semua sudah lama menikmati Yono sebagai 'Hafidhul Burdah'," kata Cak Nun dalam tulisannya di Anakku Yono, Sarang Angin Burdah, seperti dikutip Harianjogja.com, Rabu (11/9/2019).

"Yono dan Shalawat karya Imam Busyiri Iskandariyah itu seperti kipas angin yang menyejukkan ruang dan siapa saja yang ada di situ. Ia hafal, bahkan sangat hafal Burdah. Muhammad Hadiwiyono adalah Sarang Angin Burdah. Suaranya bagus mengalun. Lelaki yang gagah, gotot, tinggi besar, tapi vocalnya lembut dan volume shalawatannya lirih," kata dia.

Cak Nun sempat melayat jenazah Hadiwiyono, hal itu juga ia ungkapkan dalam tulisannya. "Saya datang terlambat. Saya buka kain putih penutup jenazahnya di bagian kepala. Saya ciumi wajahnya. Saya panggil-panggil namanya siapa tahu ia menjawab atau bangun kembali," tutur Cak Nun.

Seperti diberitakan sebelumnya pembongkaran makam almarhum Muhammad Hadiwiyono di kompleks Majelis Taklim Al Khowas di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, sempat bikin heboh warga Sleman.

Pembongkaran makam itu dilakukan atas desakan Front Jihat Islam (FJI) pada Minggu (8/9/2019) lalu. Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) FJI, Abdulrahman kala itu mengatakan, kedatangan rombongannya ke Al Khowas adalah untuk menemani Ades, seorang warga Pakuncen Kota Jogja. Ades ingin memindahkan jenazah ayahnya Muhammad Hadiwiyono, yang dikubur di dalam kompleks yang mereka sebut ponpes tersebut.

Muhammad Hadiwiyono meninggal Agustus lalu karena serangan jantung. Almarhum yang tinggal di Jember, Jawa Timur itu meninggal dunia saat ia pergi ke kompleks Majelis Taklim Al Khowas.

Pengajar majelis taklim Al Khowas Muhammad Hafiun menceritakan kisruh pembongkaran makam dan penggalian jenazah dari liang lahat serta penggerudukan ormas Front Jihad Islam ke majelis tersebut.

Aksi geruduk FJI menurutnya bermula dari wafatnya Muhammad Hadiwiyono, salah seorang jemaah majelis taklim Al Khowas.

Hadiwiyono datang ke majelis taklim Al Khowas ingin bersilaturahmi dengan Habib Abdillah bersama dengan keponakannya dan temannya bernama Habib Muhammad.

Kemudian, dia bermalam selama tiga hari, pada Rabu malam, 21 Agustus lalu, dia mengeluh sakit sesak dan Hafiun berniat untuk mengantarkannya ke rumah sakit.

"Mas Yono, ayo ke rumah sakit, kemudian setelah dia tidak sadarkan diri, kami langsung antarkan ke rumah sakit Hermina, namun sesampainya di rumah sakit dia sudah tidak tertolong lagi, namun kami tidak tahu persis jam dia mengembuskan napas terakhirnya," jelasnya.

Lalu, ia dan jawatannya berdiskusi karena tidak tahu harus membawa jenazah almarhum Yoni ke mana. Karena istri dan keluarganya berada di Jember sebagai tempat domisili.

"Tetapi di Jogja ia punya dua anak dari istri pertamanya dan sudah lama ia berpisah, akhirnya kami menghubungi anaknya yang di Jogja, meskipun berdasarkan penuturan paman dari Yono yaitu Mas Nur, anaknya itu jarang mengunjungi ayahnya, dan memang selama almarhum Yono di sini anaknya jarang sekali mengunjunginya," ujarnya.

Kemudian, anaknya yang bernama Ades itu datang ke rumah sakit Hermina. Pasca berdiskusi kurang lebih 15 an orang termasuk Ades, diambil keputusan agar membawa jenazah ke dalam kompleks majelis taklim.

"Sampai di pondok juga kami masih bingung, akhirnya keponakan almarhum bernama Mas Nur menghubungi Ibunda dari almarhum, dan berdasarkan wasiat almarhum yang disampaikan ke ibunya bahwasanya jika Yono meninggal dunia ia ingin dimakamkan di kompleks majelis taklim Al Khowas, akhirnya ibu, istri, dan anaknya yang ada di Jember berangkat ke Jogja," tutur dia.

Di saat perjalanan keluarga almarhum Yono ke Jogja, Hafiun dan anggota majelis taklim Al Khowas memandikan dan mengkafani jenazah almarhum yang juga disaksikan oleh Ades.

"Kemudian satu persatu anggota keluarga kami tanyakan akhirnya mereka setuju untuk menguburkan jenazah di kompleks majelis taklim Al Khowas, namun ketika mendekati waktu zuhur saat jenazah ingin dimakamkan, Ades menghilang, kami juga sempat mencarinya, dan kami tidak tahu perginya ke mana, maksud kami agar semua anggota keluarganya menyaksikan prosesi pemakaman," jelas dia.

Majelis taklim Al Khowas juga mengadakan tahlil selama tujuh hari untuk mendoakan kepergian dari Muhammad Hadiwiyono.

Singkat cerita, Sabtu (7/9/2019) ada anggota Polsek setempat yang datang ke kompleks majelis taklim Al Khowas menginformasikan jika akan ada pembongkaran jenazah almarhum Yono kepada Muhammad Hafiun.

"Lalu pukul 11.00 WIB Ades datang beserta sejumlah orang untuk mengambil jenazah almarhum Yono, namun harus ada hitam di atas putih terlebih dahulu, kemudian harus ada persetujuan dari keluarganya yang ada di Jember. Saya dan Habib Abdillah menolak untuk menandatangani surat tersebut karena memang keluarga sudah mengamanahkan jenazah almarhum Yono kepada kami, negosiasi berjalan alot hingga malam hari, akhirnya sejumlah orang yang tergabung dalam sebuah ormas tersebut pulang," ujarnya.

Lalu, keesokan harinya sejumlah orang yang tergabung dalam sebuah ormas itu datang lagi ke komplek majelis taklim Al Khowas dengan tuntutan yang sama, yakni ingin memindahkan jenazah yang ada di dalam majelis taklim. "Saya tetap berpendirian tidak akan menandatangani surat tersebut sebelum keluarganya yang ada di Jember datang menyaksikan pemindahan tersebut, sebelum itu jenazah masih diamanatkan kepada kami, kalau kami serahkan artinya kami berkhianat, kami dibilang mempersulit, padahal kami sama sekali tidak mempersulit, ini etika" ungkap Hafiun.

Akhirnya, pembongkaran makam pun tetap dilakukan. Ia dan jawatannya beserta Habib Abdillah juga sudah rela jenazah almarhum Yono diambil dari liang lahat. "Kami juga tidak bisa berbuat apa-apa, namun Kami juga sedih, kenapa jenazah yang sudah tenang dimakamkan harus digali kembali," jelasnya.

Almarhum yang disebut salah satu pionir pengajian kondang Kiai Kanjeng itu baru dimakamkan selama kurang lebih 16 hari di kompleks majelis taklim Al Khowas sebelum akhirnya dipindahkan jenazahnya.