Jasad yang Makamnya Dibongkar di Sleman Ternyata Pionir Pengajian Kiai Kanjeng, Dekat dengan Cak Nun

Pengajar majelis taklim Al Khowas Muhammad Hafiun (kanan) berfoto bersama dengan salah satu anaknya di depan rumahnya yang ada di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Selasa (10/9/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
10 September 2019 22:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pembongkaran makam almarhum Muhammad Hadiwiyono di kompleks Majelis Taklim Al Khowas di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, sempat bikin heboh warga Sleman.

Pembongkaran makam itu dilakukan atas desakan Front Jihat Islam (FJI) pada Minggu (8/9/2019) lalu. Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) FJI, Abdulrahman kala itu mengatakan, kedatangan rombongannya ke Al Khowas adalah untuk menemani Ades, seorang warga Pakuncen Kota Jogja. Ades ingin memindahkan jenazah ayahnya Muhammad Hadiwiyono, yang dikubur di dalam kompleks yang mereka sebut ponpes tersebut.

Muhammad Hadiwiyono meninggal Agustus lalu karena serangan jantung. Almarhum yang tinggal di Jember, Jawa Timur itu meninggal dunia saat ia pergi ke kompleks Majelis Taklim Al Khowas.

Muhammad Hadiwiyono sendiri merupakan seseorang yang dekat dengan tokoh budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Salah seorang jemaah Majelis Taklim Al Khowas, Cak Sogi, mengatakan jika almarhum merupakan pionir dalam pengajian kondang Kiai Kanjeng yang digagas oleh Emha Ainun Nadjib.

"Beliau dari SMA Negeri 1 Jember, kemudian pindah ke SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, kemudian dia diopeni oleh Cak Nun, namun dia sempat menghilang selama tujuh tahun," kata Cak Sogi, Selasa (10/9/2019).

Almarhum Hadiwiyono baru dimakamkan selama kurang lebih 16 hari di kompleks majelis taklim Al Khowas sebelum makamnya dibongkar dan jasad dipindahkan ke Jember. Almarhum juga dikenal dengan kepiawaiannya dalam hal salawat burdah.

Bahkan, Cak Nun juga sempat membahas kepergian Muhammad Hadiwiyono dalam tulisannya di caknun.com dengan judul "Anakku Yono, Sarang Angin Burdah".

Pengajar majelis taklim Al Khowas Muhammad Hafiun menceritakan kisruh pembongkaran makam dan penggalian jenazah dari liang lahat serta penggerudukan ormas Front Jihad Islam ke majelis tersebut pada Minggu (6/9/2019) lalu.

Majelis taklim tersebut sebelumnya digeruduk oleh Front Jihad Islam (FJI) karena dianggap sebagai ponpes yang mengajarkan kesesatan.

"Saya dari dulu mengatakan jika majelis taklim ini bukan ponpes, kalau ponpes itu harus ada bangunan yang sempurna, ada silabus dan kurikulumnya, pendanaannya juga harus jelas dan harus terdaftar di Kemenag. Ini adalah sebuah majelis zikir dan mujahadah, tapi memang masyarakat selama ini mengenal Al Khowas sebagai pondok, dan itu juga sah-sah saja kami juga tidak melarangnya, majelis zikir tidak perlu izin," kata Hafiun kepada Harianjogja.com saat jumpa pers yang dilakukan di halaman rumahnya yang disaksikan beberapa pihak seperti petugas KUA, instansi Pemkab Sleman, Banser, hingga aparat TNI-POLRI, Selasa (10/9/2019).

Aksi geruduk FJI menurutnya bermula dari wafatnya salah seorang jemaah majelis taklim Al Khowas Muhammad Hadiwiyono asal Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Hadiwiyono datang ke majelis taklim Al Khowas ingin bersilaturahmi dengan Habib Abdillah bersama dengan keponakannya dan temannya bernama Habib Muhammad. "Media yang memberitakan jika ia datang bersama istrinya untuk berobat ke majelis taklim itu juga tidak benar," tegasnya.

Kemudian, dia bermalam selama tiga hari, pada Rabu malam, 21 Agustus lalu, dia mengeluh sakit sesak dan Hafiun berniat untuk mengantarkannya ke rumah sakit.

"Mas Yono, ayo ke rumah sakit, kemudian setelah dia tidak sadarkan diri, kami langsung antarkan ke rumah sakit Hermina, namun sesampainya di rumah sakit dia sudah tidak tertolong lagi, namun kami tidak tahu persis jam dia mengembuskan napas terakhirnya," jelasnya.

Lalu, ia dan jawatannya berdiskusi karena tidak tahu harus membawa jenazah almarhum Yoni ke mana. Karena istri dan keluarganya berada di Jember sebagai tempat domisili.

"Tetapi di Jogja ia punya dua anak dari istri pertamanya dan sudah lama ia berpisah, akhirnya kami menghubungi anaknya yang di Jogja, meskipun berdasarkan penuturan paman dari Yono yaitu Mas Nur, anaknya itu jarang mengunjungi ayahnya, dan memang selama almarhum Yono di sini anaknya jarang sekali mengunjunginya," ujarnya.

Kemudian, anaknya yang bernama Ades itu datang ke rumah sakit Hermina. Pasca berdiskusi kurang lebih 15 an orang termasuk Ades, diambil keputusan agar membawa jenazah ke dalam kompleks majelis taklim.

"Sampai di pondok juga kami masih bingung, akhirnya keponakan almarhum bernama Mas Nur menghubungi Ibunda dari almarhum, dan berdasarkan wasiat almarhum yang disampaikan ke ibunya bahwasanya jika Yono meninggal dunia ia ingin dimakamkan di kompleks majelis taklim Al Khowas, akhirnya ibu, istri, dan anaknya yang ada di Jember berangkat ke Jogja," tutur dia.

Di saat perjalanan keluarga almarhum Yono ke Jogja, Hafiun dan anggota majelis taklim Al Khowas memandikan dan mengkafani jenazah almarhum yang juga disaksikan oleh Ades.

"Kemudian satu persatu anggota keluarga kami tanyakan akhirnya mereka setuju untuk menguburkan jenazah di kompleks majelis taklim Al Khowas, namun ketika mendekati waktu zuhur saat jenazah ingin dimakamkan, Ades menghilang, kami juga sempat mencarinya, dan kami tidak tahu perginya ke mana, maksud kami agar semua anggota keluarganya menyaksikan prosesi pemakaman," jelas dia.

Majelis taklim Al Khowas juga mengadakan tahlil selama tujuh hari untuk mendoakan kepergian dari Muhammad Hadiwiyono.

Singkat cerita, Sabtu (7/9/2019) ada anggota Polsek setempat yang datang ke kompleks majelis taklim Al Khowas menginformasikan jika akan ada pembongkaran jenazah almarhum Yono kepada Muhammad Hafiun.

"Lalu pukul 11.00 WIB Ades datang beserta sejumlah orang untuk mengambil jenazah almarhum Yono, namun harus ada hitam di atas putih terlebih dahulu, kemudian harus ada persetujuan dari keluarganya yang ada di Jember. Saya dan Habib Abdillah menolak untuk menandatangani surat tersebut karena memang keluarga sudah mengamanahkan jenazah almarhum Yono kepada kami, negosiasi berjalan alot hingga malam hari, akhirnya sejumlah orang yang tergabung dalam sebuah ormas tersebut pulang," ujarnya.

Lalu, keesokan harinya sejumlah orang yang tergabung dalam sebuah ormas itu datang lagi ke komplek majelis taklim Al Khowas dengan tuntutan yang sama, yakni ingin memindahkan jenazah yang ada di dalam majelis taklim. "Saya tetap berpendirian tidak akan menandatangani surat tersebut sebelum keluarganya yang ada di Jember datang menyaksikan pemindahan tersebut, sebelum itu jenazah masih diamanatkan kepada kami, kalau kami serahkan artinya kami berkhianat, kami dibilang mempersulit, padahal kami sama sekali tidak mempersulit, ini etika" ungkap Hafiun.

Akhirnya, pembongkaran makam pun tetap dilakukan. Ia dan jawatannya beserta Habib Abdillah juga sudah rela jenazah almarhum Yono diambil dari liang lahat. "Kami juga tidak bisa berbuat apa-apa, namun Kami juga sedih, kenapa jenazah yang sudah tenang dimakamkan harus digali kembali," jelasnya.