Pilih Ketua OSIS, Siswa SMPN 1 Tepus Gunakan Voting-El

Ilustrasi. - Harian Jogja/Desi Suryanto
13 September 2019 20:12 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ada yang beda dalam pemilihan ketua Organisasi Siswa Intra sekolah (OSIS) di SMP Negeri 1 Tepus, Jumat (13/9/2019). Jika tahun-tahun sebelumnya siswa memberikan hak suaranya secara langsung melalui pemungutan suara manual, tahun ini pemilihan dilakukan dengan sistem voting elektronik (voting-el). Cara ini dilakukan untuk menumbuhkan nilai-nilai demokrasi di lingkungan sekolah sesuai dengan perkembangan zaman.

Dengan sistem voting-el, para kandidat dapat secara langsung mengetahui hasil pemilihan. Mekanismenya pun cukup mudah. Saat kegiatan belajar mengajar, satu per satu siswa dipanggil menuju ke laboratorium teknologi informasi untuk memilih calon ketua OSIS.

Ada 377 siswa yang memberikan hak suara melalui voting-el dengan memanfaatkan 12 komputer yang ada di sekolah. Adapun yang digunakan untuk voting mengambil dari Google Form. "Pemilihan ketua OSIS dengan sistem voting-el baru kami laksanakan tahun ini," kata Kepala SMPN I Tepus, Heriyanto, kepada wartawan, Jumat.

Menurutnya, banyak keuntungan yang didapat dalam sistem voting-el. Selain menghemat anggaran, sistem ini juga mempercepat waktu pelaksanaan pemilihan. "Yang jelas kami bisa menghemat kertas, paling hanya membutuhkan stempel kertas untuk presensi," ujarnya.

Di sisi lain, pelaksanaan pemilihan ketua OSIS dengan sistem voting-el nantinya diharapkan menjadi bekal bagi para siswa di masa yang akan datang, di mana semua kegiatan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban warga negara secara praktis memanfaatkan teknologi informasi.

Sistem pemilihan konvensional mengandalkan perhitungan manual, sedangkan voting-el mampu mengirim hasil langsung dari perangkat komputer tempat pemilihan ke komputer server. "Sistem konvensional memakan waktu lama dibanding voting-el,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul, Bahron Rasyid, mengapresiasi sejumlah sekolah yang telah mengaplikasikan teknologi informasi dalam proses demokrasi di sekolah. Hal ini merupakan rangkaian edukasi di mana teknologi tak melulu berdampak negatif. "Ini memiliki makna ganda yakni murid belajar demokrasi dan belajar teknologi untuk menentukan pilihannya," katanya.