Disertasi tentang Relasi Kuasa dalam Sastra dan Seni Pertunjukan Diseminarkan

Wakil Rektor I USD, Rohandi, memberikan sambutan dalam Seminar Sanata Dharma Berbagi dengan tema Meninjau Kembali Relasi Kuasa dalam Sastra dan Seni Pertunjukan, di Ruang Kadarman Kampus II USD pada Jumat (27/9/2019) pagi. - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
28 September 2019 03:37 WIB Rahmat Jiwandono Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dua akademisi Universitas Sanata Dharma (USD) memperkenalkan hasil disertasinya dalam acara Seminar Sanata Dharma Berbagi dengan tema Meninjau Kembali Relasi Kuasa dalam Sastra dan Seni Pertunjukan di Ruang Kadarman, Kampus II USD Jumat (27/9/2019) pagi.

Kedua akademisi tersebut yakni Yustina Devi Ardhian, dosen Magister Ilmu Religi dan Budaya serta Lektor Kepala, Tatang Iskarna.

Wakil Rektor I USD, Rohandi, mengatakan seminar tersebut bertujuan membagi pengalaman dosen di USD terkait dengan pengalaman studi S3 mereka. "Mereka melakukan penelitian dan menyusun disertasi," katanya, Jumat.

Keduanya berbagi soal hasil penelitian serta pandangan-pandangan mereka terkait isu yang dibahas. Dipilihnya kedua akademisi tersebut karena punya tema disertasi yang hampir serupa. "Mereka belum lama lulus dan terpilih untuk membagikan karyanya," kata dia.

Peserta acara ini terbuka untuk umum, seperti mahasiswa dan dosen. Seminar seperti ini setiap tahunnya diadakan hingga tiga kali. "Setiap tahun ada dosen yang lulus S3 baik dari bidang teknik, farmasi, psikologi maupun pendidikan," ungkapnya.

Salah satu pembicara, Yustina Devi Ardhiani, menyatakan disertasinya berjudul Himpitan Rezim Seni dalam Kelompok Seni Sahita. Ia menyebut kelompok seni Sahita terbentuk pada 2001 di Surakarta, Jawa Tengah yang beranggotakan empat orang perempuan usia 47 hingga 58 tahun. "Yang ingin saya sampaikan adalah kelompok ini lahir dan berkembang dalam himpitan rezim seni," katanya.

Rezim seni yang dimaksud ialah gagasan esensial menurut Ranciere tentang seni dalam tradisi Barat. Rezim seni tersebut dibedakan menjadi tiga bentuk yaitu rezim etik, rezim representatif, dan rezim estetik. "Rezim dipahami sebagai skema yang mengatur dan memerintah namun bersifat longgar sekaligus kronologis," jelas dia.

Menurutnya, setiap kali Sahita pentas selalu menggunakan gaya satiris dan mendobrak stereotip tubuh perempuan bentukan media massa. "Itu yang jadi dasar penelitian saya," katanya.

Pembicara lainnya, Tatang Iskarna, mengatakan materi yang ia sampaikan bertajuk Agama sebagai Aparatus Ideologi dalam Novel Arrow of God dan The River Between. "Novel pertama ditulis oleh Chinua Achebe dari Nigeria serta novel kedua ditulis oleh Ngugi wa Thiongo dari Kenya," kata dia.

Disertasinya menekankan, dalam dua novel itu pembaca diajak melihat ulang bagaimana relasi operasi penguasa kolonialis-kapitalis Inggris dengan kaum pribumi Igbo dan Kikuyu terjadi. "Itu yang mau saya sampaikan," ujarnya.