Sultan: Pasar Malam Sekaten Tetap Ada, Digelarnya 2 Tahun Sekali

Ilustrasi PMPS Sekaten. - Harian Jogja/Desi Suryanto
04 Oktober 2019 14:07 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pemda DIY membantah pelaksanaan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) sama sekali tidak digelar selama perayaan sekaten di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Gubernur DIY sekaligus Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan HB X Gubernur DIY sekaligus Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan berdasarkan hasil kesepakatan dengan Pemkot Jogja pelaksanaan PMPS hanya dilakukan dua tahun sekali. "Untuk pasar malam dua tahun sekali. Keramaian Sekaten dikurangi. Itu kesepakatannya," kata Sultan seusai melantik Pejabat Sekda DIY di kompleks Kepatihan, Jumat (4/10/2019).

Menurut Sultan, kegiatan PMPS merupakan tanggung jawab Pemkot. Seharusnya, Pemkot mengumumkan kesepakatan tersebut. "Mestinya diumumkan oleh Pemkot, tapi tidak diumum-umumkan. Kasihan yang mau ke Sekaten," kata Sultan.

Sultan memiliki alasan tersendiri pelaksanaan PMPS hanya dilakukan dalam dua tahun sekali. Salah satu alasannya, karena kegiatan tersebut tidak didanai oleh APBD. "Anggarannya kan non-APBD Dikarenakan belum diumumkan. Tahun depan [PMPS] ada," katanya.

Sebelumnya, saat jumpa pers perayaan Sekaten 2019 di Bale Raos, Kamis (3/10), Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro membenarkan jika rangkaian Hajad Dalem Sekaten tahun ini tidak lagi diisi dengan kegiatan pasar malam. Menurutnya, hal itu merupakan keinginan dari Ngarsa Dalem.

Salah satu alasannya, kata Notonegoro, agar semangat Hajad Dalem Sekaten bisa dikembalikan ke era awal Kerajaan Mataram Islam di tanah Jawa.

Menurut Notonegoro kegiatan pasar malam Sekaten memang sudah ada sejak zaman penjajahan. Hanya pasar malam itu bukan bagian dari perayaan Sekaten.

Tidak adanya pasar malam juga didasarkan pada fakta di mana setelah pasar malam, kondisi Alun-Alun Utara yang amburadul. Rumput banyak yang rusak dan kondisi lahan tidak karu-karuan.

Pihak Kraton pun berupaya merevitalisasi kondisi Alun-alun (Utara). Apalagi, kata dia, sejak awal Sekaten digunakan untuk kegiatan syiar, salah satunya memupuk semangat perjuangan melawan kolonialisme. "Karena itu, dulu Belanda kemudian mengadakan pasar malam untuk memecah perhatian rakyat. Dulu [pasar malam] sempat tidak ada, kemudian muncul lagi sekitar 30 tahun terakhir," katanya.

Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Kridhamardawa Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu mengatakan jika hiburan asli Sekaten adalah gamelan. Hanya dalam perkembangannya, muncul hiburan musik. "Saya tidak ada masalah dengan dangdut tapi kan tidak cocok dengan temanya. Ini kan sekaten dari kata syahadatain, nah kami coba merasakan sekaten pada waktu dulunya," katanya.

Agar pelaksanaan Sekaten tetap semarak, pihak Keraton menyiapkan sejumlah kegiatan untuk mengembalikan semangat Sekaten. Kraton menggelar Pameran Sekaten mulai 1-9 November di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran dan Kagungan Dalem Kompleks Sitihinggil Keraton Jogja. "Tema besar yang diangkat dalam acara ini berkaitan dengan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Mulai dari biografi hingga karya pendiri Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat," imbuh GKR Bendoro.