Kemarau Panjang, Pemkab Sleman Kewalahan Salurkan Air Bersih

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
06 Oktober 2019 20:27 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Ketersediaan air bersih untuk warga yang dilanda kekeringan di Kabupaten Sleman masih aman. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mengaku terkendala kurangnya truk tangki yang digunakan untuk menyalurkan air bersih. BMKG memprediksi musim hujan di wilayah DIY tahun ini mundur hingga dua dasarian.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Makwan, mengatakan stok bantuan air bersih untuk warga yang kekurangan air mencapai 300 tangki, dan saat ini yang tersalurkan baru sekitar 100 tangki. "Untuk stok diprediksi aman sampai memasuki musim hujan. Saat ini banyak pihak swasta dan masyarakat yang siap membantu memberikan air bersih," katanya, Minggu (6/10).

BPBD Sleman, menurut Makwan, menyalurkan terlebih dahulu air bersih bantuan dari para donatur, dan stok air di BPBD untuk cadangan atau berjaga-jaga. "Sekarang permasalahannya ada pada armada yang terbatas. Truk tangki pengangkut air dari BPBD DIY hanya ada satu, Pemkab Sleman juga hanya ada satu, selebihnya dari swasta," ujar Makwan.

Berdasar data terakhir, jumlah truk tangki yang disiapkan untuk menyalurkan bantuan air bersih sebanyak delapan unit, terdiri dari tangki milik BPBD DIY, BPBD Sleman, dan milik swasta. Jumlah itu, menurut Makwan, masih kurang mengingat semakin meningkatnya permintaan dropping. Area pengedropan tak hanya di Desa Sambirejo dan Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, tetapi sudah meluas sampai Desa Sumberharjo dan Wukirharjo, Kecamatan Prambanan.

Semua truk tangki beroperasi setiap hari. Dalam sehari sekitar 30 tangki disalurkan untuk memenuhi kebutuhan semua wilayah yang kekurangan air. "Padahal untuk Desa Sumberharjo kebutuhan untuk 410 kepala keluarga minimal per hari 40 tangki," ungkap Makwan.

Meski permintaan warga tidak semua bisa dipenuhi, kebutuhan dasar warga tetap bisa teratasi. "Dengan catatan semua kendaraan tidak ada kerusakan, semua bisa dipenuhi. Kalau ada kerusakan, ya kami hanya bisa menyalurkan secukupnya," ujar Makwan.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Etik Setyaningrum,  mengatakan untuk waktu masuk musim hujan di tahun ini diperkirakan terjadi kemunduran satu sampai dua dasarian atau 10 sampai 20 hari.

Prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim hujan di DIY secara umum masuk pada November kecuali di Sleman bagian barat dan Kulonprogo bagian utara yang masuk musim hujan di dasarian terakhir Oktober 2019. "Dengan mundurnya musim penghujan masyarakat diharap bisa bijak dalam menggunakan air," kata Etik.