Produktivitas Salak Sleman Turun Hingga 50.000 Ton, Ini Langkah yang Ditempuh Pemkab

Ilustrasi salak. - Harian Jogja
15 Oktober 2019 15:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Produksi buah salak di Kabupaten Sleman tahun ini menurun. Solusinya, Pemkab Sleman kini berupaya melakukan peremajaan lahan salak guna menggenjot produktivitas.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Heru Saptono mengatakan total ada 100 hektare lahan salak yang akan diremajakan untuk meningkatkan produksi. Peremajaan itu, kata dia, bakal dilakukan secara merata di sejumlah kecamatan penghasil salak.

"Sebanyak 100 hektar lahan salak itu tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya sebagian Pakem, semua desa di Turi, dan sebagian desa di Kecamatan Tempel," kata dia, Senin (14/10/2019).

Dia menjelaskan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian akan memberikan bantuan terkait dengan peremajaan lahan itu. "Bentuknya bantuan pencangkokan. Agar warga bisa mencangkok. Kemudian nanti setelah cukup umur dilakukan penanaman kembali di lahan yang sudah ada. Jadi tidak merombak tanaman, sehingga tetap bisa berbuah," ujar Heru.

Peremajaan menurut dia perlu dilakukan lantaran kondisi saat ini, di wilayah Sleman banyak salak yang usia tanamnya sudah tua. Akibatnya produktivitas salak pun menurun.

Sebenarnya, imbuh Heru, upaya peremajaan lahan salak di Sleman sudah dilakukan namun belum secara masif. Umur salak saat ini rata-rata sudah 15 sampai 20 tahun.

Berdasarkan catatan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, produksi salak tahun ini menurun hingga 50.000 ton dibandingkan dengan tahun lalu. Di tahun lalu, produksi salak Sleman diakui dia bisa mencapai 896.000 ton.

Petani salak di Dusun Daren, Desa Donokerto, Kecamatan Turi, Sigit Widianto menganggap bantuan proyek pencangkokan sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, yang diinginkan petani yaitu pembinaan.

Dia menuturkan saat usia tanaman sudah tua, memang produktivitas menurun. "Tetapi sebenarnya itu malah bagus. Kualitas buah salak menjadi meningkat, buah yang dihasilkan jadi lebih tebal," ujarnya.

Dia mengaku saat ini memiliki lahan salak seluas 3.000 meter persegi. Adapun soal harga, dia mengatakan di tingkat petani saat ini dihargai antara Rp8.000 sampai Rp2.000. “Tergantung kualitas salaknya,” ucap dia.