Pasar Keroncong Kotagede Diserbu Kaum Milenial

Maestro musik keroncong dari Jogja, Subarjo HS tampil diiringi orkes keroncong Madusari dalam Pasar Keroncong Kotagede, Sabtu (19/10/2019). - Harian Jogja/Arief Junianto
20 Oktober 2019 19:47 WIB Arief Junianto Jogja Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Musik keroncong yang selama ini dianggap musiknya orang tua, kini kian digemari kaum milenial. Terbukti, dalam gelara Pasar Keroncong 2019 yang digelar di kawasan Kotagede, Sabtu (19/10/2019) malam lalu, ribuan penonton yang hadir didominasi oleh anak muda.

Berdasarkan pantauan Harian Jogja, dari tiga panggung yang disiapkan, yakni Panggung Kudusan di Desa Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Bantul; serta Panggung Sopingen dan Panggung Kajengan di Prenggan, Kecamatan Kotagede, Jogja, mayoritas penontonnya adalah anak muda. Bahkan mereka tak segan-segan untuk duduk tanpa alas di depan panggung dan sesekali ikut bernyanyi saat orkes keroncong sedang tampil.

Sejumlah orkes keroncong yang tampil dalam acara itu memang seperti berlomba mengaransemen musik keroncong menjadi lebih segar dan easy listening. Sebut saja misalnya penampilan OK Serenade dari Klaten, Jawa Tengah yang menampilkan keroncong dalam bentuk semiorkestra.

Begitu pula dengan orkes keroncong Madusari yang membawakan sejumlah komposisi yang kini tengah hits, di antaranya adalah lagu-lagu campursari milik Didi Kempot.

Begitu pula dengan maestro keroncong Jogja, Subarjo HS. Meski tampil dengan cengkok keroncong yang konvensional, namun penyanyi yang kini berusia 72 tahun itu tetap mampu memukau penonton, khususnya para kaum milenial.

Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Moedji Rahardjo mengaku memang sudah seharusnya anak muda kini lebih mengapresiasi musik keroncong. Menurut dia itu adalah hal yang positif di tengah kian banyaknya pula bangsa lain yang juga tengah gandrung dengan seni dan budaya lokal bangsa mereka.

Oleh sebab itu dia berharap tingginya minat anak muda terhadap keroncong, bisa dimaksimalkan oleh pegiat musik itu sendiri, baik musikus maupun penyelenggara acara-acara pentas musik keroncong.

Contohnya Pasar Keroncong tahun ini, sudah cukup bagus merespons tingginya animo kaum milenial terhadap musik keroncong,” kata dia sesaat sebelum membuka secara resmi acara Pasar Keroncong 2019, Sabtu malam.

Lebih Variatif

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIY Singgih Raharjo berharap nantinya ada evaluasi secara menyeluruh terhadap gelaran Pasar Keroncong 2019. Dengan begitu gelaran Pasar Keroncong berikutnya bisa lebih variatif dan responsif terhadap permintaan pasar.

Betapapun, kata dia, Kotagede menyimpan potensi besar pariwisata. Di mata dunia, Kotagede dipandang sebagai salah satu destinasi wisata andalan di Jogja, bahkan di Indonesia. “Apalagi musik keroncong, Kotagede adalah cikal bakal tumbuhnya keroncong di Jogja. Seharusnya ini jadi modal besar untuk membuat Kotagede jadi daya tarik wisata,” kata Singgih.

Sebelumnya, Ketua Pasar Keroncong Kotagede, M Natsir Dabey mengatakan Pasar Keroncong Kotagede yang bertajuk Keroncong Tak Kunjung Padam tersebut merupakan dokumentasi nyata perkembangan musik keroncong di Indonesia.

“Kotagede merupakan tempat awal berkembangnya musik keroncong sejak tahun 1930 dibuktikan dengan adanya Orkes Keroncong (OK) Terang Bulan. Sampai 2000, sudah ada 17 OK yang aktif,” kata dia.