Festival Watu Payung di Desa Girisuko Jadi Ajang Promosi

Sejumlah wisatawan menikmati keindahan alam di objek wisata Watu Payung, Dusun Turunan, Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, Minggu (20/10/2019). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
20 Oktober 2019 21:47 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Dusun Turunan, Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, menggelar Festival Watu Payung, Sabtu-Minggu (19-20/10/2019). Acara yang diinisiasi warga dan didukung Pemkab Gunungkidul tersebut mendapatkan sambutan positif dari wisatawan.

Ketua Pokdarwis Sido Mulyo III, Iwan Saputra, mengungkapkan selama pelaksanaan festival, tercatat sekitar 2.000 wisatawan menghadiri acara, menikmati suguhan seni, budaya, wisata dan makanan tradisional langsung dari masyarakat sekitar.

"Alhamdulillah selama dua hari ini tingkat pengunjung sangat banyak. Jika pada hari biasa pengunjung yang datang hanya 300 orang, saat festival pengunjung mencapai ribuan," kata Iwan saat ditemui Harian Jogja, Minggu.

Iwan menjelaskan selain mampu menjadi pilar promosi pariwisata yang ada di Desa Girisuko, Festival Watu Payung juga menjadi ajang promosi budaya masyarakat setempat. Festival ini diharapkan bisa terus berkesinambungan sehingga tak hanya wisata Watu Payung saja yang terkenal, tetapi juga potensi seni budaya yang dimiliki warga Dusun Turunan, Desa Girisuko.

"Selama dua hari kami menampilkan seni budaya seperti gejog lesung yang merupakan budaya asli Desa Girisuko. Ada juga budaya leluhur yang sudah lama tidak muncul yakni congkokan, reog reksobudoyo, hingga campursari," ujarnya.

Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Asty Wijayanti, mengungkapkan Festival Watu Payung digelar untuk mengangkat wisata alam Watu Payung agar lebih dikenal oleh masyarakat luas. Menurutnya, sejak dirintis, masih banyak wisatawan ataupun masyarakat yang belum mengenal Watu Payung. "Melalui kegiatan ini kami berharap agar masyarakat atau wisatawan bisa tahu bahwa di Desa Girisuko ada destinasi yang dikembangkan dengan berbasis hutan," kata dia. Asty meminta wisata berbasis hutan tersebut tidak hanya terfokus pada pengembangan wisata semata, tetapi juga mengembangkan budaya yang hidup di tengah masyarakat Girisuko.

Salah seorang wisatawan, Herianto, warga asal Semarang, Jawa tengah, mengaku senang bisa berkunjung ke objek wisata Watu Payung. Selain bisa menikmati keindahan alam, dia juga bisa melihat pertunjukan seni budaya yang ada. "Cukup baik dan positif. Bahkan kalau bisa kegiatan seni buda bisa terjadwal, sehingga wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga seni budaya," ujarnya.