Sembada Run 2026 Digelar di Sleman, Bidik Wisatawan dan UMKM
Sembada Run 2026 digelar di Lapangan Denggung, Sleman, dengan kategori 3K dan 5K untuk mendorong gaya hidup sehat serta promosi UMKM.
Ilustrasi angin kencang./JIBI
Harianjogja.com, JOGJA- Sejak Minggu (20/10/2019) malam kawasan Gunung Merapi dilanda angin kencang hingga mencapai 80 km/jam. Diduga, kondisi Merapi saat ini ikut memicu terjadinya angin kencang di lereng Merapi.
Kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Jogja, Sigit Hadi Prakosa mengatakan angin kencang melanda di Kawasan Merapi baik di wilayah Kabupaten Magelang, Boyolalgi maupun Sleman pada Minggu (20/10/2019) hingga Senin (21/10/2019). Angin yang terjadi, kata Sigit, bersifat sangat lokal. Hal ini selain mengacu kepada konsentrasi wilayah kerusakan, kecepatan anginnya pun berbeda dengan dataran rendah lainnya.
Kecepatan angin di lereng Merapi, katanya, mencapai 80 km/jam (skala fujita) sedangkan pengukuran di Stasiun Klimatologi Mlati Jogja hanya 16 km/jam. "Kejadian di lereng Merapi di mana angin berhembus cukup kencang secara lokal. Angin berhembus lebih kencang di malam hari," katanya saat dihubungi Harianjogja.com, Senin (21/10/2019).
Dia menjelaskan, ada dugaan peningkatan aktivitas Merapi turut andil memicu kejadian bencana lokal angin kencang ini. Peningkatan aktivitas Merapi berupa Erupsi awan panas pada 14 Oktober diikuti guguran lava pada 15 Oktober 2019 telah menyebabkan peningkatan suhu permukaan di Kawasan Puncak Merapi sehingga tekanan udara di wilayah ini menjadi cukup rendah.
"Dalam skala tertentu, tekanan udara permukaan berbanding terbalik dengan suhu udara permukaan. Suhu yang lebih panas akibat erupsi Merapi dan guguran lava yang terjadi dalam waktu yang cukup lama, kata Sigit, akan menurunkan tekanan udara permukaan sehingga udara mengalir ke wilayah dengan suhu lebih panas tersebut.
"Kejadian hujan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang pada Minggu malam 20 Oktober 2019 dipicu oleh anomali aliran angin lembah [angin mengalir dari lembah ke arah gunung] yang membawa udara dingin dan lembab sehingga terjadi kondensasi dan terbentuk awan Cumulonimbus (Cb) di lereng pegunungan," paparnya.
Angin lembah, lanjut Sigit, biasanya terjadi siang hari saat bagian dataran mendapat pemanasan matahari yang cukup. Kondisi berbeda terjadi di areal pegunungan, dimana secara umum puncak gunung suhu udara permukaan biasanya lebih dingin di bandingkan daerah di lereng. "Dampaknya, sirkulasi udara lokal cenderung bergerak turun (angin gunung)," katanya.
Saat kondisi di bagian atas gunung lebih panas maka sirkulasi lokal itu dapat berbalik sehingga menyebabkan angin lembah (dari atas ke bawah) menjadi lebih kuat dari biasanya. Pada topografi tertentu, hal ini dipengaruhi bentuk lereng dan permukaan pegunungan, angin lembah itu dapat membentuk pusaran-pusaran angin pada area dan skala yang lebih kecil.
"Kondisi ini seperti yang terjadi di Kecamatan Selo Boyolali pada Senin (21/10/2019) pagi," katanya.
Kepala Stasiun Klimatiogi Mlati BMKG Jogja Reni Kraningtyas berharap atas peristiwa tersebut masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. "Kami harap masyarakat tetap waspada dan mengikuti informasi terupdate dari BMKG," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sembada Run 2026 digelar di Lapangan Denggung, Sleman, dengan kategori 3K dan 5K untuk mendorong gaya hidup sehat serta promosi UMKM.
DPRD Bantul mendorong pembagian penerimaan pajak perusahaan pusat dan daerah lebih proporsional untuk mengoptimalkan pendapatan daerah.
DPRD Sleman meminta pembangunan sport center memperhatikan standar teknis cabang olahraga, kebutuhan atlet, dan kenyamanan masyarakat.
Kemnaker menyebut BSU 2026 sebagai stimulus untuk menjaga daya beli pekerja. Simak syarat penerima dan besaran bantuan Rp900.000.
Kemenhaj menyerap masukan jemaah umrah asal Jawa Timur untuk mengevaluasi layanan haji 2027, termasuk kesiapan petugas dan perubahan sistem pelayanan.
Pemerintah menyiapkan anggaran Rp883,4 miliar untuk diskon transportasi Nataru 2026/2027. Simak skema diskon pesawat, kereta, kapal, dan ASDP.