Kampung Satwa Festival III 2019 Hadirkan Ngaji Satwa dan Budaya

Para anggota Kampung Satwa saat berkunjung ke Harian Jogja, Selasa (29/10/2019). - Harian Jogja/Nina Atmasari
30 Oktober 2019 01:17 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Ada yang menarik dalam agenda Kampung Satwa Festival III 2019 yang akan digelar di Kedung Banteng, Sumberagung, Moyudan Sleman pada 15-17 November mendatang. Ngaji Satwa dan Budaya akan digelar menghadirkan tokoh budaya dan kyai.

Sekretaris Panitia Kampung Satwa Festival III, Hanif Kurniawan mengungkapkan Ngaji Satwa dan Budaya yang akan digelar pada Jumat (15/11/2019) malam tersebut menghadirkan pakar budaya Nuriswantoro dan tokoh agama, Gus Akim dari pondok pesantren Abdul Manan, Kedung Banteng.

"Ngaji Satwa dan Budaya ini akan mengupas tentang bagaimana membaca ayat Tuhan yang tidak tertulis tetapi tampak di alam semesta," jelas Hanif, saat berkunjung ke Harian Jogja, Selasa (29/10/2019).

Ia menjelaskan pada penyelenggaraan agenda tahunan yang sudah ketiga kalinya ini, panitia tetap memasukkan unsur budaya. Akan ada pentas wayang kancil yang ditujukan untuk anak-anak sekolah dasar yang sengaja diundang ke acara tersebut.

Selain itu, ada pula workshop Ekology & Identifikasi Ular, P3K Gigitan Ular Berbisa dan Lomba Imobilisasi, yang akan menghadirkan dr. Tri Maharani dari WHO dan Donan Satria Yudha dari Fakultas Biologi UGM. "Sasaran peserta workshop adalah relawan bencana, anggota TNI dan Polri serta anggota organisasi massa. Diharapkan mereka semakin paham tentang jenis ular dan penanganan darurat gigitan ular," tambah Hanif.

Sepanjang kegiatan, juga akan dipamerkan satwa dan tumbuhan dari komunitas-komunitas yang ada di DIY dan sekitarnya, seperti aneka burung, reptilia, ikan, mamalia, seranga dan konservasi alam. Ada pula aneka lomba untuk anak dan dewasa, outbond dan Lelang Pet (ikan, reptil, mamalia dan burung).

Dari seluruh rangkaian acara ini, Kampung Satwa berharap program ini dapat meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kecintaan atas lingkungan hidup, satwa dan tumbuhan sejak dini. "Memelihara satwa itu boleh asalkan prinsip animal welfare atau kesejahteraan satwa itu terpenuhi. Selain itu, upaya konservasi juga harus tetap dijaga," pungkasnya.