Penangkap Napi di Kulonprogo Diganjar Penghargaan

Dua warga yakni ATM (kiri) dan MRS (dua dari kiri) menerima sertifikat penghargaan dari Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas II B Wates, Priyatno (kanan) di Aula Rutan Kelas II B Wates, Rabu (30/10/2019).Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara
30 Oktober 2019 12:37 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES - Keluarga besar Rumah Tahanan Kelas II B Wates memberi penghargaan kepada warga yang berhasil menangkap narapidana yang kabur dari rutan beberapa waktu lalu. Penghargaan diserahkan di Aula Rutan Kelas II B Wates, Rabu (30/10/2019) pagi. 

Penghargaan itu diberikan kepada dua warga sipil. Untuk alasan keamanan, nama penerima kami samarkan. Hal ini juga berdasarkan permintaan dari pihak rutan dan kedua penerima penghargaan tersebut.  

Adapun penerima penghargaan berinisial ATM dan MRS. ATM menangkap dua napi atas nama Taufikurohman, 32 dan Abdul Aziz, 29. Penangkapan itu dilakukan bersama sejumlah warga di sekitar masjid Dusun Blumbang, Desa Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih, Minggu (27/10/2019) sore. Atau selang beberapa jam pasca kedua terpidana kasus pencurian itu kabur dari penjara. 

"Dari warga ngasih kabar ada napi yang lepas. Kemudian kita berempat berusaha bantu mencari. Terus di Dusun Blumbang, di situlah kita sama temen-temen bisa ketemu," kata ATM usai menerima penghargaan Rabu pagi. 

Lebih lanjut ATM menjelaskan kedua napi itu sempat dicecar sejumlah pertanyaan. Keduanya mengaku jalan kaki dari Kenteng, Kecamatan Sentolo dan hendak ngojek ke arah utara. "Kita gak ada yang mau, akhirnya kita tunggu dulu. Setelah itu saya cari warga sini yang juga pegawai rutan, gak lama kemudian napi bisa ditangkap," ujarnya. 

Sementara, MRS, diganjar penghargaan karena berinisiatif melaporkan keberadaan Sutristiyanto alias Trisno, 41. Terpidana kasus pencurian itu dilaporkan kepada petugas rutan saat bersembunyi di ladang jagung, Desa Beji, Kecamatan Wates, Selasa (29/10/2019). 

Kepada awak media, MRS mengaku kebetulan bisa menjumpai Trisno. Awalnya, MRS hanya diminta rekannya untuk mencari sabit yang hilang di ladang jagung. Namun bukanya sabit yang didapat, melainkan sesosok pria tengah tiduran di rerimbunan pohon jagung. 

Semula MRS tak tahu jika pria itu adalah, Trisno, napi yang kabur dari penjara dan tengah dicari petugas keamanan. Dia mulai curiga saat Trisno mengancam untuk tidak bilang kepada siapa-siapa mengenai keberadaannya. Tidak hanya diancam, MRS juga diminta untuk memijat kaki Trisno yang bengkak. "Tapi saya nggak mau, apalagi diminta buat nggak bilang ke siapa-siapa," ujarnya. 

Mendengar ancaman Trisno, MRS sempat gentar. Dia takut hidupnya terancam. Namun rasa gentar itu rupanya masih kalah dengan rasa penasaran MRS yang ingin tahu siapa sebenarnya Trisno. Dia kemudian teringat mengenai kabar napi kabur dari Rutan Kelas II B Wates. 

"Hampir dua jam saya diam di situ, saya bingung, apakah ini napi yang dicari atau bukan, awalnya mau saya laporkan ke warga, tapi takutnya malah dimassa, kalau dia mati saya juga yang repot," ucapnya. 

Saat bergelut dengan kebingungan, MRS mendengar suara motor melintas di jalanan dekat ladang. Motor tersebut dikendarai oleh seorang anggota TNI. MRS lantas berlari mendatangi anggota itu dan menceritakan apa yang ia alami. "Saya kemudian diminta untuk laporan ke rutan, kami berdua [bersama TNI] meluncur ke rutan dan akhirnya bisa laporan, setelah itu yang saya tahu napi bisa ditangkap," terangnya. 

Kasubsi Pelayanan Tahanan Rutan Kelas II B Wates, Priyatno, mengatakan penghargaan yang diberikan kepada ATM dan MRS semata-mata wujud syukur dan terimakasih dari keluarga besar rutan. "Alhamdulillah dari masyarakat bisa memberikan informasi sehingga kami berinisiatif memberikan penghargaan bentuk sertifikat. Jangan diliat bentuknya, tapi ucapan rasa syukur kita," ucapnya. 

Selain kedua warga tersebut, pihak rutan berencana mencari warga lain untuk mendapat penghargaan serupa. Ini mengingat ATM dan MRS tidak bertindak sendiri. "Tidak menutup kemungkinan akan bertambah, tapi masih kita coba hubungi yang lain," jelasnya. 

Kepada masyarakat, Priyatno mengimbau agar segera melapor jika ada hal-hal seperti kemarin. Selain itu, koordinasi antar instansi terkait dengan rutan juga akan ditingkatkan. 

Diisolasi

Seluruh napi yang sudah tertangkap antara lain Taufikurohman, 32, Abdul Aziz, 29, Sutristiyanto alias Trisno, 41, Pinasthi Bayu Setya Aji, 21 dan Dany Syaiful Arifin, 36, saat ini ditempatkan di ruang isolasi. Priyanto menyatakan kondisi kelima napi itu baik-baik saja. Mereka utamanya yang terluka sudah mendapat perawatan medis. 

Untuk sementara waktu kelima napi itu tidak boleh dibesuk sampai keluar hasil sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).  "Sebelum keluar hasil sidang seluruh napi ini tidak boleh dijenguk oleh siapapun. Tapi saya belum bisa berkomentar kapan hasilnya keluar," ujar Priyanto. 

Pasca kejadian kaburnya napi, Priyanto menyatakan suasan rutan kondusif. Tidak ada gejolak yang muncul antar sesama napi. Untuk mengantisipasi hal serupa terjadi, sistem kemanan rutan akan diperketat. Seluruh petugas jaga harus standby di masing-masing pos pengamanan. "Kita lebih melaksanakan apa yang sudah diamanatkan SOP. Tata tertib penjagaan. Tapi untuk Kunjungan tidak ada perubahan," terangnya.