BP Tapera Tebar Rp8,83 Triliun Buat Pejuang KPR, Ini Realisasinya
Selama Januari 2024-awal Mei 2024, BP Tapera telah menyalurkan dana untuk kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi sebesar Rp8,83 triliun.
Salah satu EWS yang terpasang di samping Sungai Gendol, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak pada Kamis (31/10/2019)./Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, SLEMAN—Meskipun secara umum wilayah DIY belum memasuki musim hujan, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman tetap mengantisipasi jauh-jauh hari potensi munculnya lahar hujan dari hulu sungai di lereng Gunung Merapi.
"Persiapan saat memasuki musim hujan pasti kami lakukan. Salah satunya adanya potensi banjir lahar hujan di lereng Gunung Merapi," ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan, Kamis (31/10/2019).
Dia mengatakan lahar hujan dari arah hulu sungai di Lereng Merapi memang kecil potensinya untuk berdampak pada permukiman warga. "Tetapi kalau di sungai, sekecil apapun lahar hujan itu, tetap berbahaya apalagi kalau ada manusia yang beraktivitas di sungai," tutur Makwan.
Saat hujan mengguyur dengan intensitas lebat, lahar hujan berpotensi mengalir ke sungai mulai dari Sungai Opak, Gendol, Kuning, Krasak, dan Boyong. Itulah sebabnya, BPBD Sleman menyiapkan early warning system (EWS) yang tersebar di sungai-sungai tersebut.
"EWS kondisinya semuanya ready. EWS yang dipasang untuk pemberitahuan bahaya bagi permukiman yang dekat dengan aliran sungai. Jumlahnya sekitar 20 unit termasuk EWS untuk awan panas," kata Makwan.
Saat ini berdasarkan pantauan BPBD Sleman, hujan sudah mulai mengguyur wilayah Sleman bagian utara atau wilayah lereng Gunung Merapi. Namun, hujan yang mengguyur intensitasnya cukup rendah.
Saat ini kedalaman sungai yang biasa dialiri lahar hujan tergolong masih cukup dalam. Hal tersebut membuat aliran lahar hujan kecil kemungkinan bisa berdampak ke permukiman.
Di beberapa sungai pun ada dam yang cukup besar untuk menahan laju air. "Beronjong juga masih banyak, dan cukup. Ada sekitar 400 bronjong, sebagian sudah dipakai," ungkap Makwan.
Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta Etik Setyaningrum mengatakan saat ini secara umum, wilayah DIY belum memasuki musim hujan. Wilayah DIY masih masuk masa transisi atau pancaroba. "Di masa pancaroba hujan diprediksi berpotensi muncul di beberapa tempat dengan skala lokal dan tidak merata," kata Etik.
Sementara beberapa wilayah yang sudah diguyur hujan walau intensitas kecil salah satunya Sleman bagian utara. "Ketika memasuki musim penghujan, kami imbau masyarakat untuk mempersiapkan diri, seperti membersihkan drainase untuk menghindari banjir, selain itu memangkas cabang-cabang pohon yang sudah tua agar tidak roboh terkena angin," kata Etik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Selama Januari 2024-awal Mei 2024, BP Tapera telah menyalurkan dana untuk kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi sebesar Rp8,83 triliun.
Konsep halal tidak cukup dipahami sebatas label pada kemasan produk. Kehalalan harus dibangun dari niat dan kesadaran pelaku usaha.
Taeyang BIGBANG merilis album Quintessence setelah 9 tahun, berisi 10 lagu dan kolaborasi global lintas musisi.
xAI meluncurkan Grok Build, AI coding berbasis terminal untuk saingi Claude Code dengan fitur plan mode dan sub-agent.
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Grand Rohan Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka Senin (18/5)