Predikat Jogja sebagai Kota Batik Kian Dimantapkan

Kepala Dinas pariwisata DIY, Singgih Raharjo dan Kabid Promosi Dinas Pariwisata DIY, Marlina Handayani, dalam jumpa pers Jogja Fashion Carnival 2019, Jumat (1/11/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
01 November 2019 19:42 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tahun ini Dinas Pariwisata (Dispar) DIY kembali menggelar Jogja Fashion Carnival. Event yang merupakan bagian dari Jogja Fashion Week XIV itu akan digelar di sepanjang Jalan Malioboro sampai Alun-Alun Utara, Jogja, Minggu (3/10/2019).

Kepala Dispar DIY, Singgih Raharjo, menjelaskan kegiatan tersebut mengusung tema Jantaka Anargaya yang berarti mengubah atau membuat sesuatu yang tadinya tidak bernilai menjadi sebuah karya bernilai seni tinggi.

Jogja Fashion Carnival tahun ini akan diikuti sebanyak 28 kelompok yang masing-masing terdiri dari dua kelompok peserta lomba dan lima kelompok bintang tamu. “Bintang tamunya meliputi Jember Society, Banyuwangi Etnocarnival, Salatiga Carnival, Tim Karnaval FT UNY, dan tim mitra pariwisata DIY,” ujarnya saat menggelar jumpa pers, Jumat (1/11/2019).

Adapun kelompok peserta berasal dari DIY dan sejumlah daerah sekitarnya, seperti Solo, Kebumen, dan Cilacap. Lalu untuk kostum, dibagi dalam dua kategori, yakni flora dan fauna. Setiap kelompok harus mampu menampilkan kostum yang merepresentasikan kategorinya masing-masing.

Peserta akan dinilai oleh lima dewan juri yang terdiri dari berbagai bidang keilmuan, yang meliputi unsur pemerintahan, budayawan, fesyen dan pelaku karnaval. “Peserta yang menjadi juara dari kedua kategori tersebut akan menerima trophy dan uang pembinaan yang akan diserahkan pada penutupan Jogja Fashion Week di JEC,” kata dia.

Kepala Bidang Promosi Dispar DIY, Marlina Handayani, menuturkan acara tersebut diawali dengan lomba rias yang diikuti oleh 25 peserta di Hotel Grand Inna Malioboro, Minggu pagi. Lalu pukul 14.30 WIB baru dimulai karnaval dengan titik start di Gedung DPRD DIY dan finis di Alun-Alun Utara.

Dia berharap dengan kegiatan ini bisa menambah atraksi wisata serta jumlah kunjungan wisatawan. “Dapat menguatkan posisi DIY sebagai kota Batik Dunia dengan penyuelenggaraan event yang memanfaatkan kain batik sebagai materi. Juga sebagai wadah bagi para desainer untuk mengekspresikan bakat dalam bidang fesyen,” ujarnya.