25 Sekolah di Sleman Sudah Mengaplikasikan Gerakan Sekolah Menyenangkan

Bupati Sleman Sri Purnomo dan Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal saat melakukan kroscek lapangan progam GSM di di SMPN 2 Sleman, Selasa (12/11/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
13 November 2019 02:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Dinas pendidikan kabupaten Sleman menginginkan agar semua sekolah SD maupun SMP negeri yang ada di kabupaten Sleman bisa mengaplikasikan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Sebagai awal, GSM secara resmi sudah diluncurkan dan diresmikan di SMPN 2 Sleman, Selasa (12/11/2019).

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Sri Wantini mengatakan tahap sekarang ini pihaknya memprioritaskan penerapan GSM kepada sekolah negeri. "Tahap sekarang sekolah negeri dulu, habis itu sekolah swasta," ujar Sri Wantini, Selasa (12/11/2019).

Meskipun selama ini sekolah swasta juga sudah mengaplikasikan GSM. Contohnya di SD Muhammadiyah Mantaran Trimulyo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman yang akan dijadikan sebagai salah satu sekolah model GSM dari sekolah swast.

Dinas pendidikan kabupaten Sleman mencoba untuk menggandeng sekolah sekolah yang ada di kabupaten Sleman khususnya yang berada dipinggiran seperti SMPN 4 Prambanan, SMPN 2 Godean, dan SMPN 4 Tempel untuk mengurangi kesenjangan mutu.

"Kita harapkan agar sekolah sekolah lain bisa mengikuti seperti yang sudah kita resmikan di SMPN 2 Sleman ini, kita akan memulai supaya potensi potensi sekolah pinggiran itu juga bisa muncul dan lebih dikenal oleh masyarakat," ujarnya.

GSM ini, lanjut Sri, merupakan salah satu bentuk transformasi di sekolah, yakni dengan menciptakan ekosistem sekolah yang menyenangkan dan memberikan ruang untuk mengasah kreativitas siswa.

"Ada empat area perubahan yang menjadi sasaran GSM, yakni penciptaan lingkungan fisik yang menyenangkan, metode pembelajaran yang menuntut keterampilan siswa, pengembangan karakter siswa, dan keterkoneksian sekolah dengan orang tua, stakeholder serta seluruh lapisan masyarakat,” paparnya.

Ia menyebutkan, workshop terkait GSM ini telah dimulai sejak akhir 2018, dan dimulai penerapannya di Kabupaten Sleman pada awal tahun 2019. Saat ini ada 25 sekolah yang telah menerapkan GSM yang terdiri dari 17 SD perwakilan tiap kecamatan dan 8 SMP. 

“Saya berharap nantinya seluruh sekolahan di Kabupaten Sleman mampu mengadaptasi, meniru serta mampu memodifikasi GSM di sekolah masing-masing”, ungkapnya.

Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal mengatakan yang paling utama dalam pengaplikasian GSM yang dilakukan di SMPN 2 Sleman ini tidak hanya sebatas peluncuran atau pelatihan kepada guru yang bersifat administratif.

"Tapi yang paling utama adalah tugas pemerintah daerah yaitu mampu memayungi gerakan sekolah menyenangkan dalam regulasi baru," ungkapnya.

Rizal mengatakan, aturan yang gemuk itu sering membelenggu kreativitas dan inovasi dari guru itu sendiri di dalam mengajar dan mendidik.

"Harapan kita mindset dan birokrasi juga harus berubah tidak bisa hanya menuntut guru dan muridnya berubah, tetapi birokrasinya tidak, nah itu nantinya tidak sinkron, karena nanti peraturan yang dibuat takutnya malah berbenturan," tutupnya.