Tol Jogja Bakal Dibangun, Pemerintah Khawatir Spekulan Tanah Beraksi

Ilustrasi jalan tol. - JIBI/Nicolous Irawan
20 November 2019 21:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Pemerintah Desa (Pemdes) mengimbau agar masyarakat tidak melakukan transaksi jual beli tanah selama proses pengadaan tanah untuk jalan tol Solo-Jogja-Bawen. Hal itu dilakukan untuk mencegah masuknya spekulan tanah.

Kepala Desa Purwomartani Kalasan Semiono, berharap agar warga tidak melakukan transaksi jual beli tanah apalagi secara besar-besaran selama rencana pembangunan jalan tol berlangsung. Meski diakuinya tidak ada regulasi yang mengatur masalah tersebut, namun imbauan tersebut dilakukan untuk mencegah masuknya para spekulan tanah.

"Kalau itu terjadi maka spekulan tanah nanti yang akan menguasai tanah. Itu yang bisa merugikan warga," katanya kepada wartawan, Rabu (20/11/2019).

Dari desa lainnya yang terdampak pembangunan jalan tol, katanya, luas lahan di Purwomartani merupakan yang terbanyak terdampak. Totalnya mencapai 44,4 hektare. Di desa ini, lanjut Semi, terdapat 164 rumah dan 639 bidang terdampak pembangunan jalan tol. "Total ada delapan dusun yang terdampak pembangunan jalan tol," katanya.

Jumlah tersebut membentang dari Dusun Karanglo, Kadirojo I dan II, Cupuwatu II, Temanggal I & II, Sumudaran dan juga Dusun Bayan. Saking banyaknya luas lahan terdampak, sosialisasi jalan tol di Purwomartani akan berlangsung selama enam kali.

"Secara umum warga Purwomartani mendukung pembangunan jalan tol yang melewati desa tersebut. Kalau pun ada yang masih kontra itu hanya satu dua saja," kata Semi.

Diakuinya, warga sudah banyak yang mendatangi Balai Desa untuk bertanya apakah lahan atau rumahnya masuk dalam proyek strategis nasional tersebut atau tidak. "Sudah banyak yang bertanya. Kebetulan di Purwomartani 80 persen lahan sudah bersertifikat SHM, hanya sedikit yang masih berstatus Letter C," katanya.