Trans Jogja Diminta Ada Jalur Khusus seperti Trans Jakarta, Begini Jawaban Sri Sultan

Sri Sultan hamengku Buwono X-Gubernur DI.Yogyakarta. - Harian Jogja/Desi Suryanto
03 Desember 2019 19:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyatakan wacana jalur khusus untuk Trans Jogja di wilayah Kota Jogja yang meniru jalur Trans Jakarta, sulit diterapkan. 

HB X memahami adanya beberapa pihak yang menginginkan Trans Jogja dibuat jalur khusus. Namun jalanan di Jogja tergolong sempit dan banyak dimanfaatkan jenis transportasi darat lain seperti becak dan andong. Oleh karena itu ia menilai pembuatan jalur khusus tersebut sulit diterapkan.

"Saya enggak tahu ya apakah jalan yang di Jogja itu sempit dikasih itu, seperti Jakarta kan maunya biarpun hanya line. Kalau [menurut] saya kok agak susah itu, jalannya sudah sempit, terus [ kalau] tidak boleh dilewati kan soyo [semakin] sempit. Ada becak, andong, sepeda motor, mobil, bagaimana?," katanya, Selasa (3/12/2019).

Terkait dengan kecelakaan yang melibatkan sopir Trans Jogja hingga menimbulkan korban tewas, Sultan menilai jika sopir berhati-hati sebenarnya kecelakaan itu tidak terjadi. 

Oleh karena itu penertiban dan pembinaan terhadap sopir Trans Jogja memang perlu dilakukan. Menurutnya, melanggar lampu bangjo yang menyala merah merupakan sebuah kelengahan.

“Sebetulnya asal sopirnya hati-hati, tidak nabrak-nabrak, ya yang penting tertibkan saja, makanya saya minta lakukan verifikasi. Risiko kan gitu, kalau merah harusnya berhenti neng [tetapi] terus [jalan] terus piye, itu kan kelengahan saja,” ujar Sultan dalam menanggapi kasus kecelakaan Trans Jogja.

Ia mengatakan kecelakaan yang terjadi disebabkan karena berkendara dengan kencang. Seharusnya di dalam kota pelan dalam berkendara dan dengan hati-hati. Di sisi lain banyak masyarakat yang seringkali tidak sabar ketika berkendara.

“Selama ini kecelakaan itu kan yang terjadi, jalan kencang, kalau di dalam kota jalannya pelan. Karena di dalam kota hati-hati, ya semua selamat, yang naik maupun yang jalan selamat, tetapi kalau ngawur enggak hati-hati, tidak mengerti, menguasai teknologi itu ternyata kita belum siap, karena masih banyak kecelakaan, untuk sabar nganggo mesin iki rung iso [belum bisa sabar dalam berkendara],” ucapnya.