Anak Ular Kobra Paksa Keluarga di Gunungkidul Mengungsi karena Habitatnya Terganggu

Ilustrasi kobra - Reuters
06 Desember 2019 18:47 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Penduduk Dusun Kepek I, RT 06, Kepek, Wonosari, Gunungkidul, masih terteror belasan anak kobra yang melata di permukiman. Warga makin waswas karena induk kobra belum ditemukan, sementara anak kobra bahkan sampai masuk ke kamar dan memaksa satu keluarga mengungsi. Ular kobra bisa masuk ke permukiman karena habitat mereka terganggu.

Kepala Laboratorium Biologi UGM Donan Satriya Yudha meminta masyarakat tidak panik. Menurutnya, ada beberapa cara untuk mencegah ular masuk ke dalam rumah. Warga bisa membuatkan tempat persembunyian palsu dari tumpukan kayu atau genting tak terpakai di dekat rumah. Tempat persembunyian palsu ini penting karena ular mendekat ke perumahan karena ingin mencari tempat persembunyian yang nyaman. Salah satunya dengan masuk ke rumah atau di sekitar perkarangan.

“Ular hampir sama dengan manusia. Saat panas mencari tempat teduh untuk berlindung dan rumah menjadi tempat yang jadi tujuan,” ujarnya, Jumat (6/12/2019).

Donan mengatakan lokasi di sekitar rumah sangat strategis bagi kobra karena menyediakan banyak makanan, seperti tikus, cicak, atau hewan pengerat lainnya.

“Kalau panas, sering ada ular yang keluar mencari tempat yang teduh,” katanya.

Mencegah kobra masuk ke rumah juga bisa dilakukan dengan menaruh benda berbau menyengat seperti parfum, kapur barus atau minyak tanah di sekitar tempat yang berpotensi menjadi lokasi ular masuk rumah.

“Garam bukan solusi, karena tempat yang ditaburi garam akan dilewati saja oleh kobra. Tapi kalau bau-bau yang menyengat seperti kapur barus, ular akan menyingkir karena tidak tahan dengan baunya,” katanya.

Donan Satriya Yudha mengatakan kemunculan anak ular kobra di akhir tahun merupakan hal yang wajar. Penyebabnya, dalam siklus perkembangan kobra, ular berbisa itu menetaskan telur pada Oktober hingga November.

“Memang sudah siklusnya, saat akhir tahun ada penetasan telur-telur kobra,” kata Donan.

Menurut dia, anak ular kobra berada di permukiman warga karena habitat mereka di alam liar mulai terdesak keberadaan manusia. Oleh karena itu, hewan-hewan ini mencari tempat yang lebih aman. “Tidak hanya ular, monyet maupun harimau saat habitatnya terganggu pasti akan mendekat ke permukiman warga,” katanya.

Penduduk Dusun Kepek I kembali menangkap anak ular kobra. Sementara, si induk yang diduga membiakkan puluhan kobra sejak dua tahun lalu belum diketahui keberadaannya.

Penduduk Dusun Kepek I, Ervan Bambang Dermanto, mengatakan warga terus mencari keberadaan ular kobra di permukiman untuk mencegah kobra masuk ke dalam rumah.

“Semalam warga menangkap lagi anak ular kobra dua ekor. Jadi yang tertangkap sudah ada 18 ekor,” katanya, Jumat (6/12/2019)

Kepala Dusun Kepek I Sukirno mengatakan tiap akhir November sampai dengan awal Desember sejak empat tahun terakhir , anak kobra berukuran sekitar 30 cm sering muncul di RT 6.

Ular tersebut tak hanya melata di pekarangan, tetapi juga di kamar warga. Bahkan salah satu keluarga sampai mengungsi ke rumah mertua karena kamar mereka kemasukan anak kobra.

“Keluarga itu memiliki anak kecil,”

Dari 2017 sampai 2018, warga RT setempat menangkap sekitar 49 anak kobra.Sementara, dalam empat hari terakhir, warga menemukan 11 ekor.

“Induknya belum tertangkap. Warga takut. Kalau induk dibiarkan populasinya bertambah banyak,” kataya.

Sukirno mengatakan warga bahkan mendatangkan paranormal untuk mencari sarang kobra.

Anak kobra kali pertama terlihat terlihat dan ditangkap di Kepek I pada 2016. Awalnya warga menganggapnya biasa. Namun, anak kobra terus muncul dan tambah banyak, khususnya saat akhir tahun. Warga sudah sering mendatangkan pawang dan juga komunitas penyuka reptile untuk menemukan ular kobra yang membiakkan belasan anak kobra.