Bupati Gunungkidul Ajak ASN Nglarisi Pasar Tiap Jumat Awal Bulan
Bupati Gunungkidul memberi ASN waktu 1,5 jam tiap Jumat awal bulan untuk belanja di pasar tradisional dan UMKM.
Ilustrasi ular kobra/Reuters-S. Z. Tun
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Dusun Kepek I, RT 06, Kepek, Wonosari, Gunungkidul kembali menangkap anak ular kobra. Sementara, si induk yang diduga membiakkan puluhan kobra sejak dua tahun lalu belum diketahui keberadaannya.
Penduduk Dusun Kepek I, Ervan Bambang Dermanto, mengatakan warga terus mencari keberadaan ular kobra di permukiman untuk mencegah kobra masuk ke dalam rumah.
“Semalam warga menangkap lagi anak ular kobra dua ekor. Jadi yang tertangkap sudah ada 18 ekor,” katanya, Jumat (6/12/2019)
Kepala Dusun Kepek I Sukirno mengatakan tiap akhir November sampai dengan awal Desember sejak empat tahun terakhir , anak kobra berukuran sekitar 30 cm sering muncul di RT 6.
Ular tersebut tak hanya melata di pekarangan, tetapi juga di kamar warga. Bahkan salah satu keluarga sampai mengungsi ke rumah mertua karena kamar mereka kemasukan anak kobra.
“Keluarga itu memiliki anak kecil,”
Dari 2017 sampai 2018, warga RT setempat menangkap sekitar 49 anak kobra.Sementara, dalam empat hari terakhir, warga menemukan 11 ekor.
“Induknya belum tertangkap. Warga takut. Kalau induk dibiarkan populasinya bertambah banyak,” kataya.
Sukirno mengatakan warga bahkan mendatangkan paranormal untuk mencari sarang kobra.
Anak kobra kali pertama terlihat terlihat dan ditangkap di Kepek I pada 2016. Awalnya warga menganggapnya biasa. Namun, anak kobra terus muncul dan tambah banyak, khususnya saat akhir tahun. Warga sudah sering mendatangkan pawang dan juga komunitas penyuka reptile untuk menemukan ular kobra yang membiakkan belasan anak kobra.
Sementara, Kepala Laboratorium Biologi UGM Donan Satriya Yudha mengatakan kemunculan anak ular kobra di akhir tahun merupakan hal yang wajar. Penyebabnya, dalam siklus perkembangan kobra, ular berbisa itu menetaskan telur pada Oktober hingga November.
“Memang sudah siklusnya, saat akhir tahun ada penetasan telur-telur kobra,” kata Donan, Jumat (6/12/2019).
Menurut dia, anak ular kobra berada di permukiman warga karena habitat mereka di alam liar mulai terdesak keberadaan manusia. Oleh karena itu, hewan-hewan ini mencari tempat yang lebih aman. “Tidak hanya ular, monyet maupun harimau saat habitatnya terganggu pasti akan mendekat ke permukiman warga,” katanya.
Selain karena habitat alami yang terganggu, ular mendekat ke perumahan karena ingin mencari tempat persembunyian yang nyaman. Salah satunya dengan masuk ke rumah atau di sekitara perkarangan. “Ular ini hampir sama dengan manusia. Saat panas mencari tempat teduh untuk berlindung dan rumah menjadi tempat yang jadi tujuan,” ujarnya.
Donan mengatakan lokasi di sekitar rumah sangat strategis bagi kobra karena menyediakan banyak makanan, seperti tikus, cicak, atau hewan pengerat lainnya.
“Kalau saat panas sering ada ular yang keluar mencari tempat yang teduh,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bupati Gunungkidul memberi ASN waktu 1,5 jam tiap Jumat awal bulan untuk belanja di pasar tradisional dan UMKM.
PIHPS mencatat harga cabai rawit merah Rp114.000 per kg dan telur ayam ras Rp31.550 per kg pada 6 Oktober 2026.
Pembangunan RTH eks Parkir Abu Bakar Ali dimulai dan ditargetkan rampung Desember 2026 dengan konsep perpaduan hutan dan taman kota.
Ledakan di Ruko San Antonio, Pakuwon City, Surabaya, menyebabkan lima orang terluka dan sedikitnya 20 bangunan mengalami kerusakan.
Redaksi kembali menghadirkan rangkuman Top Ten News Harianjogja.com edisi Selasa (6/10/2026) yang merangkum isu paling hangat dan strategis.
Lebih dari 2.000 pelajar dari 40 sekolah mengikuti Karnaval Pelajar Mantrijeron untuk memeriahkan HUT ke-270 Kota Jogja.