Heboh Pisang Bertandan Ganda di Gunungkidul, Bisa Jadi Varietas Unggul
Pisang bertandan ganda di Gunungkidul menarik perhatian. Pemkab siap kembangkan jadi varietas unggulan.
Ilustrasi kobra/Reuters
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kepala Laboratorium Biologi UGM Donan Satriya Yudha mengatakan kemunculan anak ular kobra di akhir tahun merupakan hal yang wajar. Penyebabnya, dalam siklus perkembangan kobra, ular berbisa itu menetaskan telur pada Oktober hingga November.
“Memang sudah siklusnya saat akhir tahun ada penetasan telur-telur kobra,” kata Donan, Jumat (6/12/2019).
Menurut dia, anak ular kobra berada di permukiman warga karena habitat mereka di alam liar mulai terdesak keberadaan manusia. Oleh karena itu, hewan-hewan ini mencari tempat yang lebih aman. “Tidak hanya ular, monyet maupun harimau saat habitatnya terganggu pasti akan mendekat ke permukiman warga,” katanya.
Selain karena habitat alami yang terganggu, ular mendekat ke perumahan karena ingin mencari tempat persembunyian yang nyaman. Salah satunya dengan masuk ke rumah atau di sekitara perkarangan. “Ular ini hampir sama dengan manusia. Saat panas mencari tempat teduh untuk berlindung dan rumah menjadi tempat yang jadi tujuan,” ujarnya.
Donan mengatakan lokasi di sekitar rumah sangat strategis bagi kobra karena menyediakan banyak makanan, seperti tikus, cicak, atau hewan pengerat lainnya.
“Kalau saat panas sering ada ular yang keluar mencari tempat yang teduh,” katanya.
Belakangan ini, warga Dusun Kepek I, RT 06, Kepek, Wonosari resah dengan kemunculan belasan anak ular kobra.
Salah seorang penduduk Dusun Kepek I, Ervan Bambang Dermanto menemukan anak kobra sebesar jempol tangan berkeliaran di kamar mandi pada Selasa (3/12/2019) malam.
“Saya tangkap kemudian saya berikan ke pawang,” katanya, Rabu (4/12/2019).
Menurut dia, anak kobra kali pertama terlihat terlihat dan ditangkap di Kepek I pada 2016. Awalnya warga menganggapnya biasa. Namun, anak kobra terus muncul dan tambah banyak, khususnya saat akhir tahun. “Setiap akhir tahun warga menangkap anak kobra. Sampai sekarang induk kobra belum diketahui,” ujarnya.
Warga sudah sering mendatangkan pawang dan juga komunitas penyuka reptile untuk menemukan ular kobra yang membiakkan belasan anak kobra. “Kami belum tahu di mana sarang ular dan ini yang mereseahkan,” kata Ervan.
Kepala Dusun Kepek I Sukirno mengatakan tiap akhir November sampai dengan awal Desember sejak empat tahun terakhir , anak kobra berukuran sekitar 30 cm sering muncul di RT 6.
Ular tersebut tak hanya melata di pekarangan, tetapi juga di kamar warga. Bahkan salah satu keluarga sampai mengungsi ke rumah mertua karena kamar mereka kemasukan anak kobra.
“Keluarga itu memiliki anak kecil,”
Dari 2017 sampai 2018, warga RT setempat menangkap sekitar 49 anak kobra.Sementara, dalam empat hari terakhir, warga menemukan 11 ekor. “Induknya belum tertangkap. Warga takut. Kalau induk dibiarkan populasinya bertambah banyak,” kataya.
Sukirno mengatakan warga bahkan mendatangkan paranormal untuk mencari sarang kobra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pisang bertandan ganda di Gunungkidul menarik perhatian. Pemkab siap kembangkan jadi varietas unggulan.
DPAD DIY mengedukasi masyarakat pentingnya arsip sebagai aset berharga dan bukti hukum melalui kampanye sadar arsip sejak dini.
Jadwal KRL Solo–Jogja 25 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Tugu. Tarif Rp8.000, keberangkatan padat dari pagi hingga malam.
Timnas Iran memindahkan markas ke Meksiko jelang Piala Dunia 2026 demi mengatasi masalah visa dan keamanan.
Kepuasan pelanggan KAI Daop 6 Jogja terus meningkat hingga 4,55 pada 2025. Layanan makin nyaman, aman, dan ramah lingkungan.
BNPB mengimbau masyarakat waspada cuaca ekstrem usai BMKG memprediksi hujan lebat disertai angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia.