Paguyuban Ibu-Ibu Kembangkan Motif Batik Khas Gunungketur

Kegiatan Sosialisasi Menggali Potensi Kekayaan Motif Batik Pendopo Kencono di Gunungketur, Pakualaman, Kota Jogja, Jumat (13/12/2019). - Harian Jogja/Sunartono
13 Desember 2019 19:07 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Ibu-ibu yang tergabung dalam Paguyuban Batik Sido Luhur, Kelurahan Gunungketur, Pakualaman, Kota Jogja sedang berusaha mengembangkan sejumlah pembuatan motif batik selain motif Gunungketur yang sudah menjadi identitasnya. Deskripsi filosofi motif batik tersebut juga akan dibuat katalog khusus untuk mengedukasi pemakai batik.

Pengurus Paguyuban Batik Sido Luhur Pakualaman Jogja Rina Agustiati Umbara menjelaskan ibu-ibu yang terlibat dalam pembuatan batik berasal darI sembilan RW di Kelurahan Pakualaman. Pihaknya melakukan berbagai pendekatan untuk menambah minat kalangan ibu-ibu bisa bergabung dalam pembuatan batik, salah satunya dengan memotivasi agar mencintai batik.

Saat ini, mereka sedang mengembangkan berbagai macam motif selain motif Gunungketur yang sudah menjadi khasnya. Produksi juga akan mengarah ke batik tulis karena selama ini masih batik cap. Pewarnaan alam juga perlahan akan digunakan untuk mengurangi penggunaan bahan kimia. Adapun motif yang menjadi khas dari kelompok ini, motif Gunungketur yang menggambar gunung serta bunga-bungaan dengan nama produk pasaran batik Pendopo Kencono.

“Yang terlibat pembuatan warga dari sembilan RW di Gunungketur, yang aktif membuat [batik] sekitar 30 orang [ibu-ibu], sebagian besar masih [batik cap], kalau yang tulis hanya beberapa orang karena [batik] tulis memang aga susah dan telaten,” terangnya dalam Sosialisasi Menggali Potensi Kekayaan Motif Batik Pendopo Kencono di Gunungketur, Pakualaman, Kota Jogja, Jumat (13/12/2019).

Kelompoknya memang belum melakukan produksi secara besar-besaran, karena saat ini lebih ditekankan pada edukasi kemauan ibu-ibu dalam membuat batik. Terutama agar mereka memahami proses pembuatan batik cap, pewarnaan hingga batik tulis. Menurutnya jumlah anggota yang terlibat terus berkembang dan beberapa kegiatan produksi sudah teragendakan. Jumlah ibu-ibu untuk mengikuti paguyuban juga terus bertambah.

“Termasuk bulan depan kami akan lakukan pengembangan motif batik tulis, kebetulan kami juga diberikan pendampingan dari UII dalam pembuatan katalog motif untuk bisa dijelaskan lebih detail filosofinya,” katanya.

Dosen Teknik Industri FTI Universitas Islam Indonesia (UII) Sugarindra menjelaskan pihaknya melakukan pendampingan dalam rangka pengembangan motif terutama pembuatan katalog batik. Batik khas dari kelompok Sido Luhur adalah motif Gunungketur yang di dalamnya memiliki banyak makna filosofis. Makna ini perlu untuk diinformasikan kepada masyarakat. Sehingga pihaknya membuatkan katalog tentang deskripsi filosofis batik tersebut agar bisa dibaca masyarakat luas. Mengingat banyak pemakai batik yang tidak memahami makna filosof batik yang dipakai.

“Melalui pengabdian masyarakat ini, kami buatkan katalog motif batik dengan disertai berbagai informasi filosofisnya, sehingga memunculkan pemahaman pengguna batik. Jadi saat menggunakan batik tertentu memahami maknanya sehingga saat menggunakan di acara tertentu bisa sesuai, kalau ke acara pernikahan menggunakan motif yang gembira misalnya,” ujarnya.

Katalog tersebut berupa gambar motif tertentu disertai dengan deskripsi filosofi untuk mengenalkan kepada masyarakat. Ke depan akan dibuatkan pula katalog digital sehingga dapat diakses masyarakat luas karena saat ini dalam bentuk buku masih terbatas. “Kami bersama Profesor Muafi [Guru Besar Fakultas Ekonomi UII] memberikan pendampingan untuk pengembangan motifnya, tetapi karakter motif Gunungketur itu tentu yang kami unggulkan, lebih detail dalam catalog karena itu jadi ciri khas,” ucapnya.