Pengunjung Jenuh, Wisata Selfie Sudah Meredup dan Tak Diminati Lagi

Wisatawan ber-selfie di objek wisata Watu Goyang Desa Wisata Mangunan belum lama ini. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
15 Desember 2019 17:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Tren wisata selfie atau swafoto di DIY yang pernah sangat populer pada 2016 kini meredup. Jumlah kunjungan yang pernah mencapai jutaan per tahun berkurang signifikan. Para pengelola wisata dituntut untuk berinovasi agar objek jalan-jalan tetap eksis. Sayangnya, inovasi terhalang banyak persoalan.

Hampir semua warga DIY tahu betapa terkenalnya wisata spot selfie di Desa Wisata Mangunan, Bantul. Pada 2016, saat objek wisata ini baru saja jadi dengan segala pernak-pernik uniknya, pelancong dari DIY maupun luar DIY berbondong-bondong mengunjungi sembilan destinasi swafoto yang ada di Desa Wisata Mangunan.

Saking hits-nya, kunjungan wisatawan di Desa Wisata Mangunan pada 2017 mencapai 2.290.000 orang.

Ketua Koperasi Noto Wono Mangunan, Purwo Harsono, mengatakan jumlah itu kemudian meningkat tajam pada 2018, menjadi 2.711.000 orang.

Melihat angka pengunjung yang naik tajam, para pengelola berusaha tak terlena. Ketika pertama kali membuat objek-objek selfie tersebut, jumlah modal dan jumlah spot sudah diperhitungkan agar tak terlalu banyak.

Saat jumlah pengunjung mencapai puncak pada 2018, pembangunan spot selfie baru langsung dihentikan. Para operator kesembilan objek wisata yang ada di Desa Wisata Mangunan ini sudah memprediksi bahwa tren selfie tersebut akan menurun drastis setelah berjalan tiga tahun.

"Ternyata benar, pada tahun ini, hingga bulan November [2019] penurunannya drastis sekali dan ini sampai akhir tahun penurunannya akan lebih besar. Jadi tren wisata selfie ini sudah sangat jenuh," kata Ipung, begitu Purwo Harsono karib disapa.

Dia mengatakan para pengelola objek wisata di Desa Wisata Mangunan harus berinovasi dengan cepat. Jika tidak, mereka harus menelan pil pahit jumlah kunjungan wisatawan yang semakin sedikit. Mulai tahun ini, para pengelola merancang inovasi daya tarik wisata berbasis budaya yang akan memberi wisatawan pengalaman. Misalnya dengan menampilkan gejog lesung dan gamelan di mana wisatawan juga bisa ikut bermain. Pengembangan selanjutnya, para seniman akan dirangkul untuk menyajikan berbagai pertunjukan seni budaya berkelas di spot-spot selfie. Selain itu, paket wisata malam juga sedang dirancang untuk ditawarkan kepada wisatawan.

"Jadi inovasinya berupa wisata budaya, desa sebagai pametri budaya yang memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan. Itu memang tren wisata selanjutnya ke arah sana, sudah diprediksi. Akan tetapi sejauh ini implementasi di sini masih loyo, SDM kami sebenarnya belum siap, di situlah tantangannya," kata Ipung.

Berbeda halnya dengan Upside Down World Jogja, objek wisata ini hanya memiliki satu fokus branding, yaitu wisata spot selfie. Tak ada cara lain untuk mempertahankan eksistensi selain terus memodifikasi objek selfie yang ada di dalamnya.

Sales and Marketing Upside Down World Jogja, Hewang Widayat, mengatakan manajemen sudah merancang implementasi inovasi tersebut mulai tahun depan. "Kami akan melibatkan seniman-seniman untuk merancang spot selfie terbaru dengan konsep outdoor. Spot fotonya lebih ke konsep yang nyentrik, misalnya toilet duduk dengan kaca transparan dan view-nya Kota Jogja," kata Hewang.

Hewang mengatakan langkah tersebut secepatnya direalisasikan mengingat tren wisata selfie yang semakin jenuh. Hewang memaparkan jumlah kunjungan ke Upside Down World Jogja saat sedang booming pada 2016 paling sedikit adalah 300 orang per hari dengan rekor kunjungan 1400 orang per hari. Nominal pendapatan mencapai Rp131 Juta per hari.

Penurunan mulai terasa pada Oktober 2018 dan sampai sekarang jumlah pengunjung tak pernah kembali seperti tiga tahun lalu. "Kami yang harus putar otak bagaimana objek selfie itu tetap unik dan baru," kata Hewang.

Pengunjung Jenuh

Jenuhnya tren wisata selfie turut dirasakan oleh salah satu wisatawan Hutan Pinus Asri Desa Wisata Mangunan, Azma Afina, 22.

Afi, begitu dia disapa, mengatakan dia berkunjung ke Desa Wisata Mangunan sudah ke lima kalinya. Namun dia hanya berfoto selfie bersama objek-objek unik di sana hanya sekali.

"Selfie hanya pas kunjungan pertama, upload di Instagram terus sudah. Kan sudah ada kenang-kenangan di Instagram. Kunjungan selanjutnya cuma buat menikmati alam saja," kata Afi.

Menurut Afi, saat ini tren wisata selfie terasa membosankan, apalagi sejak hadirnya kafe-kafe instagramable (kafe dengan desain kekinian yang menyediakan spot foto), dia lebih memilih pergi ke kafe karena dia bisa selfie sekaligus merasakan pengalaman menyantap makanan lezat. "Kalau ke alam kan jauh jadi cuma sekali-kali. Kalau cuma mau selfie mendingan ke kafe aja dekat kan," kata Afi.

Senada dengan Afi, salah satu pengunjung Upside Down World Jogja, Yudhistira Adi, 20, mengatakan dia masih berpikir ulang apabila harus berkunjung ke objek wisata tersebut berkali-kali. "Ini kunjungan pertama, belum tahu mau kesini lagi apa enggak. Dipikir-pikir bingung juga ya kalau sudah selfie mau ngapain [lagi]?" kata Adi.

Pengamat Pariwisata dari Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (Puspar UGM), Prof Baiquni, mengatakan tingginya tren wisata selfie dipicu kebutuhan orang-orang untuk mengaktualisasikan dirinya di media sosial.  Baiquni menilai kini tren wisata selfie sudah sangat menurun. Pelaku wisata harus melakukan inovasi jika tetap ingin menonjolkan wisata selfie sebagai andalan objek wisata. Salah satunya adalah inovasi yang dapat memberi nilai berkelanjutan dari objek selfie yang ditawarkan.

"Kalau sekadar selfie dengan objek, akan cepat selesai trennya. Jika didorong memaknai objek tersebut, misalnya diedukasi soal pohon, soal sejarah dari objek selfie tersebut, orang akan menemukan pengalaman yang baru. Ada banyak bentuk inovasi, intinya adalah menawarkan pengalaman," kata Baiquni.

Ia mencontohkan perlunya pengelola objek wisata bekerja sama dengan petani, perajin, dan pembuat kopi. “Wisatawan yang datang akan ikut memanen padi, buat gerabah atau menumbuk kopi. Tren wisata sekarang begitu. Itu nanti jatuhnya juga selfie kok, akan tetapi mereka selfienya saat kegiatan itu. Sama-sama selfie, tetapi lebih experiencing [memberi pengalaman]," kata Baiquni.